Friday, August 25, 2006

Merdeka? Belum Tentu...!

Sepertinya sudah agak terlambat kalau saya mengucapkan selamat atas ulang tahun kemerdekaan ke-61 bagi Republik tercinta ini. Tapi saya hanya ingin memaknai lebih dalam apa artinya sebuah kemerdekaan.

Ada yang mengatakan merdeka adalah ketika kita sudah bebas mengeluarkan ekspresi. Sebebas mungkin hingga semua orang tahu apa yang kita inginkan. Setelah era yang “katanya” reformasi, banyak orang yang entah keblinger atau “terlalu” luas menginterpretasikan makna kemerdekaan berekspresi.


Tapi jika dilihat dari lingkungan terkecil yang saya hadapi sehari-hari. Kemerdekaan berekspresi itu tidak saya temukan! Sumpah! Saya sudah muak dengan yang namanya pengekangan berekspresi. Bahkan hanya untuk mengutarakan uneg-uneg di hati, masih mengalami pengekangan.


Salah satu bukti konkritnya, pada bulan Juli yang lalu, saya sama sekali tidak mempunyai kesempatan untuk meng-update blog ini. Bukan tidak sempat, tapi karena saya tidak memiliki akses untuk sekadar membuka blog ini. Dengan alasan menghambat kinerja pekerjaan dan berbahaya bagi keamanan CPU masing-masing, banyak situs di internet yang harus diblokir.


Saya tidak menyalahkan alasannya atau orang yang terpaksa melakukan keputusan itu. Saya juga tidak heran jika situs yang berbau porno menjadi korban pemblokiran itu. Tapi kenapa situs seperti blogger juga harus mengalaminya, itu yang menurut saya kurang masuk akal. Biasanya para blogger adalah orang yang ingin mengekspresikan dirinya lebih jauh lagi. Agar orang-orang yang membaca jurnalnya sedikit banyak mengerti akan eksistensinya.


Untungnya titik terang mulai muncul ketika saya berbincang dengan salah satu teman yang dapat mengusahakan pemblokiran itu sedikit dikurangi. Dan hasilnya, blog ini kembali ter-update. Terimakasih teman…! Akhirnya kembali saya sedikit merasa mendapatkan kemerdekaan…! Merdeka…!

Friday, August 18, 2006

Cinta = Aneh = Gila

Kala kita jatuh cinta, ada perasaan aneh yang bisa membuat kita munafik.

Sebagian mensyukuri datangnya perasan itu, sementara lainnya menafikan dengan berbagai alasan.

Perasaan yang ditimbulkannya membuat gelap akal sehat. Tak mampu lagi membedakan yang “benar” dengan yang “seharusnya benar”.

Menurut mereka yang “gila” dalam perasaan itu, semua tentang perasaan itu adalah benar. Sebagian bahkan dapat membuat melupakan kenyataan.

Kala kita jatuh cinta, ada sensasi menyenangkan sekaligus menegangkan. Seperti seluruh dunia berada di genggamanmu ketika berdua dengannya. Berharap agar saat itu berlangsung selamanya dan tak pernah terlewati.

Perasaan gila yang aneh...

Thursday, June 22, 2006

Putus Cinta dan Doktrin Musik


Lelah hati yang tak kau lihat. Andai saja dapat kau rasakan letihnya jiwaku karena sifatmu.
Indah cinta yang kau berikan. Kini tiada lagi kudapatkan, teduhnya, jiwa.

Baiknya ku pergi, tinggalkan dirimu, sejauh mungkin. Untuk melupakanmu.
Dirimu yang selalu, tak pedulikanku, yang mencintaimu, yang menyayangimu.

Bila saat nanti, aku jauh. Kuharap kau mengerti, kuharap kau sadari.

Belum lama ini, salah satu teman saya harus merasakan kekecewaan dalam hidup percintaannya. Bagi saya itu merupakan suatu hal yang biasa, tapi tetap saja itu menjadi semacam pengingat untuk saya. Semua tidak ada yang sempurna dan yang baik tidak akan berlangsung selamanya.

Betapa besar kita mencinta seseorang, tak berarti apa-apa jika tidak mendapatkan timbal balik yang seimbang.

It’s good to love somebody, but it’s better to be loved


Untuk teman saya itu saya tidak bisa memberikan apa-apa selain semangat dan harapan, dia akan menemukan belahan jiwanya yang lain. Di satu sisi, saya hanya dapat menggambarkan bahwa lirik lagu ini cocok untuk kondisi hatinya.

Entah kenapa saya terdoktrin oleh selera musik adik saya. Belakangan ini saya sangat menyukai lagu-lagu dari grup band yang sedang naik daun. Seperti Ungu, Samson, dan Naff. Bukannya saya tidak menyukai mereka, tapi apa yang terjadi dengan selera musik saya dulu terhadap band-band Indonesia.

Dulu saya menggemari keindahan lirik Katon Bagaskara dalam setiap lagu KLa Project. saya kerap menikmati mengalunnya melodi yang diciptakaan oleh Yovie atau harmonisnya nada-nada yang tercipta dari otak kreatifnya Ahmad Dhani.

Saya tetap menyukai mereka, tapi dominasi nada simple pop, atau ear pop dari Ungu, Samson dan Naff memborbadir saya hingga terbius. Jadi lirik dari lagu merekalah yang terngiang di kepala saya untuk menggambarkan kondisi dari teman saya itu.

Sunday, June 18, 2006

Ikhlas… Maaf…

Terkadang keikhlasan menerima sesuatu lebih berat dibanding memaksakan kehendak. Kesedihan menerima sesuatu yang tidak kita inginkan. Kedewasaan hati yang dipertaruhkan dengan egoisme dari relung terdalam.

Ketika “ingin” mengais, mencoba merengkuh sesuatu yang bukanlah miliknya. Ketika “pikir” buta akan kebenaran di depan matanya. Kegelapan hati yang tidak berujung membawa saya, kita, mereka dalam kenyataan semu.

Maaf adalah salah satu cara melatih ikhlas. Kala maaf hanya sekedar menjadi kata penghias, ikhlas tertutup maknanya.

Thursday, June 15, 2006

In Memoriam... FORTE!

Forte adalah sebuah band yang “tidak mau” maju. Potensi mereka sangat besar. Walaupun skill musik anak-anak itu tidak terlalu tinggi, tapi tidak malu-maluin juga lah… Yang pasti keinginan mereka (waktu itu) sangat tinggi untuk memajukan band itu. Itu dulu… sekarang… Dengan alasan keterbatasan waktu dan sebagainya, mereka berjalan sendiri-sendiri…

Dan itu nasib saya sebagai salah satu anggota band tersebut. Seolah tidak memedulikan betapa waktu, tenaga dan biaya kami sudah tersita untuk memajukan band ini. Berbagai sesi rekaman dengan hasil demo yang tak kunjung masuk ke pihak label. Latihan demi latihan yang telah kami lalui, festival yang tak kunjung berprestasi… Yah mau dibilang apa… ini nasib band saya… Setiap pertemuan pasti akan berujung perpisahan.

Kalau boleh kilas balik, band ini terbentuk ketika UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa-buat yang ga tau) paduan suara kampus saya membutuhkan sebuah band pengiring untuk konser tunggal mereka. Saya yang juga tergabung di UKM itu berinisiatif untuk membuat band yang terdiri dari anggota UKM itu juga.

Setelah konser yang lumayan sukses, kami, anggota band itu memutuskan untuk mencoba berdiri sendiri. Kami merasakan nuansa seni yang sama di diri kami, dan menamakan band kami Galaxy (Gabungan Laki-laki Sexy – kalo dipikir jijay banget). Tanpa bermaksud serius, kami berlatih dan terus berlatih. Dan setelah melalui beberapa pergantian personil, kami memutuskan untuk lebih serius. Langkah pertama yang kami lakukan adalah mengubah nama menjadi FORTE.

Jujur, kami sudah mencapai pada titik jenuh ketika di antar kami masih saja berkutat membahas konsep musik kami. Saya pikir sudah tidak pada tempatnya, ketika kami sudah memiliki sekitar 7 buah lagu yang siap rekam, bahkan 5 di antaranya sudah direkam dalam bentuk CD. Kami masih memikirkan konsep musik. Tapi demokrasi mengalahkan segalanya, kami kembali mempermasalahkan konsep musik band kami.

Titik perpecahan mulai terlihat ketika saya memberitahukan bahwa saya diterima bekerja di sebuah suratkabar ibukota. Kesibukan saya pasti menghambat kemajuan band ini, demikian kata saya waktu itu. Bahkan saya sempat mengajukan opsi untuk band itu terus maju tanpa saya. Tapi mereka menolak opsi itu dengan alasan kebersamaan band.

Hasilnya, kala itu, FORTE bagaikan hidup enggan, mati tak mau. Semakin jarangnya kami latihan membuat interaksi semakin berkurang. Hingga akhirnya tanpa sadar, FORTE bubar… Paling tidak itu yang saya pikir, ketika salah satu dari kami tidak lagi berniat untuk meneruskan perjuangannya bersama band ini. Selamat Tinggal FORTE… Selamat berjumpa lagi teman-teman, musik kita akan tetap hidup di winamp komputer saya… Semoga kita dapat berkumpul kembali seperti dulu…!

Thanx n Welcome

Setahun sudah lewat dia menemani saya. Berjalan tak kenal lelah. Kadang menerobos teriknya sinar matahari, kadang bermandikan hujan lebat dan membelah genangan air. Acara demi acara yang saya datangi selalu didampingi olehnya. Hingga suatu saat dia tidak lagi bersama saya. Karena suatu sebab, kami tidak dapat lagi mengarungi kerasnya jalan Jakarta bersama.

Dia bukan siapa-siapa, tapi dia sangat berarti buat saya. Februari tahun lalu, dia datang pertama kali ke kehidupan saya. Hingga nanti datangnya orang yang akan memisahkan kami. Dan waktu itu tidak akan lama lagi.

Saya harus mencari “dia” yang baru. Bukan berarti saya tidak lagi menyayanginya. Tapi kebutuhan membuat saya harus mencari yang baru. Saat ini “dia” yang baru sudah datang ke kehidupan saya. Semoga dia tidak lagi secepat terdahulu meninggalkan saya. Amin…! Terima kasih atas pengabdianmu selama ini… Aku takkan pernah melupakanmu…!

Monday, May 22, 2006

Lagu Suasana Hati

Jika, memang diriku bukanlah menjadi pilihan hatimu.
Mungkin, sudah takdirlah, kau dan aku takkan mesti bersatu.
Harus, selalu kau tahu, ku mencintamu di sepanjang waktuku.
Harus, selalu kau tahu, semua abadi untuk selamanya.

Karena ku yakin, cinta dalam hatiku.
Hanya milikmu, sampai akhir hidupku.
Karena ku yakin, di setiap hembus nafasku.
Hanya dirimu, satu yang selalu kurindu.


Your song represent your heart. Itu sedikit banyak saya akui benar. Saat ini, entah kenapa hati saya sangat mellow. Beberapa hari yang lalu, seorang teman saya (dia seorang perempuan) pernah berkata, “saya baru kali ini tahu ada cowok yang betah banget berlama-lama dengerin lagu mellow kaya gitu.”

Argumen saya saat itu adalah, lagu itu mencerminkan suasana hati saya. Ya… apalagi yang mau dikata. Lagu itu bagaikan mendeskripsikan hati saya dengan tepat. Bisa dari liriknya yang mengena, atau notasinya yang menyayat hati. Seperti cuplikan lirik lagu dari Ungu yang berjudul Aku Bukan Pilihan Hatimu di atas.

Secara keseluruhan, saya kurang menyukai tema lagunya. Bagaikan menghampakan sesuatu yang seharusnya indah. Tapi saya sangat menyukai notasinya. Sederhana, sangat pop dan mellow. Tapi jangan salah mengerti, saya tetap pria sejati yang menyukai musik keras. Bayangkan saja, sejak smp, sebelum tidur saya selalu mendengarkan lagu dari album And Justice For All… milik MetallicA.

Hanya saja saat ini hati saya sedang melunak. Entah sampai kapan…!

Sunday, May 21, 2006

Another One Missing in My Life


Tahun 1990-an adalah waktu saya berperilaku sangat konsumtif. Tidak hanya disibukkan oleh kegiatan ngeband yang baru merambah di awal karier bermusik saya. Uang saku saya juga habis untuk mengoleksi kartu-kartu dan komik terbitan luar negeri.

Untuk masalah komik, hati saya telah terpikat pada komik terbitan Marvel Comics. Padahal jika mau kilas balik tahun 80-an dulu. Orangtua saya banyak membelikan komik terbitan DC Comics.

Karena itu saya banyak mengenal tokoh superhero seperti Superman, Batman, Wonder Woman atau superhero yang tergabung dalam Justice League of America, Justice Society of America. Saya lebih jarang melihat kiprah superhero seperti Spiderman, Hulk atau Captain America kala itu.

Selang waktu berganti, saya lebih memilih superhero garapan Marvel seperti Spiderman, X-Men, Fantastic Four, Avengers dan yang lain. Sebuah toko komik di daerah Pondok Indah adalah tempat pilihan saya “menghamburkan” uang.

Kegemaran saya itu semakin menjadi ketika saya duduk di bangku SMA. Kala itu, bertambahnya uang saku saya, membuat koleksi komik saya semakin menggunung. Dari koleksi itu saya menjadikan beberapa komikus sebagai salah satu idola saya. Di antaranya Jim Lee, Todd McFarlane, Erik Larsen, Marc Silvestri dan Rob Liefield.

Tapi semua seakan berhenti ketika saya kuliah. Uang saku saya saat itu lebih terhamburkan untuk membeli buku literature dan hang out dengan teman-teman kuliah. Aah.. masa muda yang menyenangkan.

Apalagi ketika saya mulai serius berpacaran. (lhoo.. berarti sebelumnya ndak serius… hehehehe…). Waktu dan uang saya semakin terkuras untuk makan atau sekadar jalan bersama kekasih hati saya. Dan waktu itu berlanjut terus hingga saya bekerja saat ini.

Beberapa waktu yang lalu, teman SMA saya (yang sudah lama sekali kita lost contact) menghubungi saya lewat FS saya. Setelah melalui beberapa pembicaraan melalui ponsel, jiwa muda saya bergejolak kembali. Saya kembali mencari komik di beberapa toko buku.

Waktu membuat saya tidak sempat terlalu banyak “hunting” lagi seperti dulu. Karena itu saya hanya bisa memuaskan diri saya dengan komik baik Marvel atau DC yang diterbitkan oleh salah satu publisher dari India. Yah.. yang penting tidak terlalu tertinggal. Walaupun mereka tidak se”worth it” koleksi saya sebelumnya yang saya beli langsung dari amrik. Well, that’s another one piece missing in my life…

Thursday, May 18, 2006

Kesetiaan...!

“Teringat ku teringat, pada janjimu ku terikat.
Hanya Sekejap ku berdiri. Kulakukan sepenuh hati.
Peduli ku peduli. Siang dan malam yang berganti.
Sedihku ini tak ada arti. Jika kau lah sandaran hati.
Kau lah sandaran hati”

Sepenggal bait lagu Letto ini membuat saya terhenyak. Seakan saya dikejutkan oleh sambaran berpuluh petir di tengah tidur nyenyak saya. Sembari memegang kepala, saya berpikir apa yang telah saya lakukan.

Saya makin sadar akan apa yang disebut dengan kesetiaan. Sebuah kata yang belakangan ini semakin kehilangan maknanya. Kontra dengan sebuah blog tetangga yang juga menarik untuk dibaca. Saya merasakan bahwa kesetiaan adalah hal terpenting dalam sebuah hubungan.

Banyak komitmen tidak terselamatkan akibat kesetiaan yang terlanggar. Tidak sedikit di antaranya dilakukan oleh kedua belah pihak bersamaan. Menyedihkan. Ketika hubungan antara dua cucu Adam dan Hawa hanya tak lebih dibandingkan ketertarikan badaniah belaka.

Oktober ini, hubungan saya dengan orang yang saya nantikan menjadi bunda dari anak-anak saya sudah berjalan selama sepuluh tahun. Meskipun belum ada ikatan yang resmi antar kami berdua, kami berharap hubungan ini lebih dari sekadar ketertarikan badaniah.

Dan kesetiaan ini sudah semestinya menjadi sesuatu yang kami berdua pegang teguh. Meskipun demikian, layaknya manusia biasa, tak tertutup kemungkinan bahwa kita, saya, anda dapat jatuh dalam godaan.

Tapi… saya harap…
Kesetiaan akan menjadi sesuatu yang melandasi hubungan kami berdua. Amin…!

Monday, May 15, 2006

CiNtA...?

Apakah arti CINTA?
Sekadar melarungkan dua hati yang bertautan di luasnya samudera kasih?
Bagaimana dengan hati lain yang ikut hanyut di samudera itu?
Nasib apa yang diterimanya?

Ikut berlayar dengan dua hati sebelumnya?
Ataukah tenggelam menerima kejujuran dunia?
Akankah dia bersikeras untuk menolak takdirnya?

Memaksakan tetap bertautan dengan dua hati yang sudah terlebih dahulu bertautan?
Kala dia memaksakannya, indahkah yang ia dapatkan nanti?
Keegoisan hati yang belum tentu memenangkan segalanya.

Saturday, April 01, 2006

There's No Final To Fantasy


Pada pertengahan tahun 1986, Square Co. Ltd. sebuah developer game Jepang yang tidak begitu terkenal merasa gerah dengan eksistensinya. Rendahnya tingkat penjualan game-game yang garapannya tidak bisa menutupi betapa tinggi budget yang dikeluarkan.

Hal ini membuat Hironobu Sakaguchi, Director of Planning Development dan semua jajaran Square merasa sangat depresi. Berdedikasi dengan jabatannya membuat Mr. Sakaguchi merasa harus berbuat sesuatu untuk menyelamatkan perusahaan tempat dia bekerja. Dengan sedikit mencontek konsep "bunuh naga dan selamatkan putri" yang dilakukan Dragon Quest buatan Enix, Mr. Sakaguchi melakukan usaha terakhir (final) untuk mewujudkan fantasinya.

Dari situ, game itu dinamakan Final Fantasy. Tapi siapa menyangka bahwa usaha terakhir Mr. Sakaguchi justru meraih sukses luar biasa. Bahkan hingga kini, gamer mengenal Final Fantasy sebagai salah satu tolok ukur untuk menilai game Role Playing Game (RPG).

“The Final Fantasy” justru menjadi “Never Ending Fantasy”

Rentetan game ini sudah mencapai serinya yang keduabelas. Itu baru serial intinya, belum serial sampingannya seperti Final Fantasy (selanjutnya saya sebut FF) Tactics, FF X-2 (sekuel langsung untuk FF X). FF Crystal Chronicle, FF VII Before Crisis yang dirilis untuk pengguna ponsel, dan yang terbaru adalah FF VII Dirge of Cerberus.

Salah satu yang menjadi kelebihan game ini adalah konsep cerita yang dikerjakan dengan serius. Bayangkan saja ketika tahun 1980-an, engine grafis untuk game belum secanggih sekarang. Karena itu Mr. Sakaguchi lebih menonjolkan kekuatan cerita untuk dijual ke gamer. Hal itu tetap berlanjut hingga FF VI.

Perubahan drastis terjadi ketika itu “the evil grey box” (playstation 1) diciptakan. FF VII hadir sebagai RPG pertama Squaresoft untuk mesin itu. Hadir dengan gambar yang jauh lebih baik dibanding seri sebelumnya, FF VII mengandalkan cerita yang tidak lagi mengambil setting zaman medieval. Formula itu menjadikan FF VII sebagai RPG terlaris hingga waktu itu.

Squaresoft mencoba meneruskannya dengan FF VIII yang mempunyai tampilan lebih cantik lagi. Karakter yang sangat cocok dijadikan idola remaja. Tapi sayangnya bagi gamer hardcore, game ini dianggap justru memperburuk reputasi FF. Alasan mereka game ini tidak mempunyai cerita yang kompleks dan sistem gameplaynya buruk. Tapi tak bisa dipungkiri, gara-gara duet Squall dan Rinoa, orang-orang yang tadinya tidak mengenal RPG menjadi tertarik untuk memainkannya. And new fans is reborn…

Di era playstation 2, FF X berusaha memperbaiki hal itu. Grafis cantik, gameplay baru dan alur cerita yang dikonsep dengan baik. Kali ini giliran kisah cinta Tidus dan Yuna yang menjadi point semua petualangan ini. FF XI hadir dengan membawa dimensi baru pada permainan RPG. Konsep onlinenya membawa gamer ke sebuah dunia maya bernama Vana Diel. Cerita dan grafis tidak terlalu ditonjolkan, meskipun memang berkualitas tinggi. Pertemuan dengan gamer dari seluruh belahan dunia itulah yang membuat banyak gamer Indonesia terbius dengan game ini. di game terbarunya FF XII, walaupun sudah tidak ada lagi Hironobu Sakaguchi di situ, mudah-mudahan dapat kembali mengembalikan sensasi bermain RPG. Nama besar Final Fantasy sebagai never ending fantasy… live on!

Wednesday, March 08, 2006

"Bukan Siapa-Siapa..."

Ku bukan siapa- siapa … !
Ku bukan jantung yang alirkan darahmu
Ku bukan udara yang sambung nafasmu
Ku bukan penyair yang tulis puisi hatimu

Ku bukan siapa- siapa … !
Ku bukan otak yang gerakan tubuhmu
Ku bukan warna yang hiasi hidupmu
Ku bukan biduan yang dendangkan lagu cintamu

Ku hanyalah orang lain …
Yang tak sengaja kenal dirimu
Tak sengaja titipkan hatinya padamu
Ku hanyalah orang lain …
Yang tak sengaja cintai dirimu
Tak sengaja serahkan hidupnya untukmu

Ku bukan siapa- siapa …
Hanya berharap keajaiban kan datang !
Semoga kau tahu …

Selamat Ulang Tahun Dik...!


Sembilan belas tahun yang lalu…
Pagi hari itu, tangismu memecah kesunyian bangsal rumah sakit. Keinginanku selama lima tahun silam terpenuhi sudah. Kehadiran seorang adik laki-laki akan lebih melengkapi indahnya kehidupanku. Sesederhana itu pola pikir bocah berumur sepuluh tahun yang menginginkan adik. Tidak ada perasaan tersaingi atau cemburu akan kehadiran mahluk mungil itu. Yang ada hanya luapan kegembiraan yang tak terkira.

Empat belas tahun yang lalu…
Bayi kecil itu sudah berumur lima tahun. Tawa riang dan celoteh lucunya sudah menemaniku dalam berbagai variannya. Berbagai aktivitasnya membuatku merasa menjadi seorang kakak yang sering aku lihat di “dunia” luar. Aku memanggulnya di gendonganku ketika dia terjatuh. Aku mendorongnya bersepeda berkeliling rumahku. Aku menggodanya ketika dia mengantuk di peraduannya. Hanya untuk sekadar kembali melihat kelakuan lucunya.

Untuk lebih menambah kebahagiaan hari ulang tahunnya, orangtuaku membuatkan sebuah acara untuknya. Walaupun aku yakin dia tidak mengetahui apa yang terjadi saat itu, tapi kebahagiaan jelas tersirat di wajahnya melihat seluruh keluarganya berkumpul di rumahnya. Dengan kue tart di depannya, tumpukan kado-kado, semua orang yang disayanginya berkumpul di meja, menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuknya. Aku merasa tidak ada kebahagiaan lebih di hari ulang tahun seorang anak daripada ini.

Dua tahun yang lalu…
Bayi kecil itu sudah berumur tujuh belas tahun. Secarik Kartu Tanda Penduduk sudah tersemat rapih di dompetnya. Berbagai pengalaman hidup sudah membuatnya lebih dewasa. Aku yang bangga melihatnya tumbuh berharap dia menjadi pribadi yang lebih baik. Kali ini sesuai untuk lebih menunjukkan eksistensinya pada pergaulannya, dia berkumpul bersama teman-temannya. Bakar ayam dan ceplok telur.

Hari ini…
Bayi kecil itu sudah lebih bijaksana memandang hidupnya. Apa yang baik dan buruk. Membuatku lebih bangga melihatnya tumbuh. Tidak ada manusia yang sempurna, kadang kelakuannya masih memancing keluar amarahku dari peraduannya. Tapi sedewasanya dia, aku masih menganggapnya seorang adik kecil yang harus aku perhatikan. Tepat di malam hari ulang tahunnya, aku menyesal dia harus mengalami sesuatu yang tidak perlu dia alami. Kekecewaannya akan hidup yang dijalaninya masih ditutupi dengan tawa dan celotehnya.

Tidak selucu sembilan belas tahun yang lalu. Tidak sehangat pestanya empat belas tahun yang lalu. Dan tidak semeriah ketika dia berkumpul dengan konconya. Hari ini kami duduk diam di garasi, merenungi apa yang terjadi malam itu. Apa yang seharusnya dan sebaiknya kami lakukan. Tidak ada kado, tidak ada keramaian, yang ada hanya sebuah kue kecil dengan dua lilin menyala di atasnya.

Dini hari itu, aku mendatangi kamarnya, ku ucapkan selamat dan memohon maaf atas apa yang terjadi selama hidupnya. Aku sangat menyesal aku tidak dapat memberikan apapun padanya. Dan dia menjawab, “melihat kamu pulang sudah menjadi kado buatku.” Tahukah dia, itu perkataan termanis yang pernah dia ucapkan. Sekali lagi aku memohon maaf dan meminta dia untuk tegar menjalani hidup ini. Tanpa kado hanya ucapan selamat. Selamat ulang tahun Dik…!

Sabtu, 31 Januari 2004, 23.30 WIB

Bertanyaku dalam kesendirian…
Apakah harapku terlalu banyak? Apakah pintaku bukanlah hakku?
Hingga ku berdosa tuk menimangnya…?
Demi apa aku mengibanya? Untuk apa aku memintanya?
Tenggelam aku dalam kejenuhan pikiran ini…
Layaknya nelayan kehilangan sauhnya… penyair kehilangan penanya…
Tersesat dalam gelapnya hidup, terapung di tengah samudera tiada batas!
Kepada siapa kucari lentera penerang jalan?
Dimana dapat kulihat tepi pantai tempat berlabuh?
Tetap bertanya dalam kesendirian… Sampai kapanku tetap tersesat?

Tuesday, February 28, 2006

Bergulat Tanpa Keringat


Gulat adalah olahraga yang keras. Tapi di balik sisi kerasnya, gulat masih menyimpan nilai-nilai hiburan yang dapat disajikan oleh penonton. Terus terang, saya kurang tertarik dengan olahraga gulat, khususnya gulat yang dipertandingkan sebagai salah satu cabang olahraga.

Tapi beda cerita ketika kita berbicara soal gulat dilihat dari kacamata sportainment. Sebuah acara yang menggabungkan teknik bergulat dengan entertainment. Belum lama berselang, sekitar beberapa tahun yang lalu, di negeri paman sam berdiri beberapa organisasi yang memfasilitasi bentuk sportainment seperti ini.

Yang paling terkenal hingga kini adalah World Wrestling Entertainment (WWE) atau yang dulu dikenal dengan World Wrestling Federation (WWF). Berbagai tokoh gulat terkenal berangkat dari organisasi ini, bahkan beberapa di antaranya mampu menembus dunia Hollywood.

WWE mempunyai beragam acara reguler yang ditayangkan untuk berbagai stasiun televisi. Contohnya Smackdown!, Raw, Heat, Survivor Series hingga yang paling terkenal adalah Wrestlemania. Saking terkenalnya hingga membuat stasiun televisi swasta pertama (RCTI-red) tertarik untuk membeli hak tayangnya di Indonesia. Walaupun dengan jadwal pemutarannya tertinggal jauh dibanding di negara aslinya, walaupun dengan duo mc yang sejujurnya sangat annoying buat saya, tapi tetap saja membuat saya selalu ingin menyaksikan acara itu.

Walaupun saat ini gaungnya mulai hilang di bumi pertiwi kita, tapi saya sangat menghargai usaha Lativi yang kembali membeli hak tayang siar dari salah satu show reguler WWE di Indonesia. Dan dengan jadwal pemutaran yang tidak terlalu jauh, saya kembali dapat menikmati beberapa pegulat favorit saya beraksi.

Kegemaran saya akan gulat sportainment itu tidak hanya di layar televisi. Seperti biasa, game selalu menjadi acuan saya mencari hiburan. Dan game-game yang berbau gulat juga tidak terhitung banyaknya. Tapi, karena saya lebih banyak mengenal pegulat di zaman WWF/WWE, jadi saya lebih memilih game yang membeli lisensi untuk menggunakan pegulat-pegulat dari organisasi itu.

Dari zaman PS 1 masih menjadi primadona gamer, saya sudah memilih game-game gulat. Tapi yang paling menarik perhatian saya adalah serial Smackdown!. Yang kemudian diteruskan dalam Smackdown! Know Your Role, kenikmatan saya bermain game jadi lebih saya rasakan.

Setelah era PS2 dimulai, pegulat-pegulat WWE juga menjadi jaminan keasyikan bermain. Dibuat oleh THQ dan Yuke’s, hingga sekarang sudah ada lima game WWE. Berturut-turut adalah Smackdown! Just Bring IT, Smackdown! Shut Your Mouth, Smackdown! Here Comes The Pain, WWE Smackdown! Vs Raw, dan yang terbaru WWE Smackdown! Vs Raw 2006. Ini baru gamenya yang dirilis di PS 1 dan 2 (karena hanya dua konsol itu yang saya miliki. Saya baru berpikiran menabung untuk membeli PS 3 nanti)

Dengan jumlah pemain yang banyak dan bervariasi, gamer dapat merasakan dan memratekkan teknik gulat yang tidak bisa mereka lakukan di dunia nyata. Bagaimana ketika kita bermain sebagai Rey Misterio yang lincah atau kekuatan yang tidak terkalahkan dari si raksasa Big Show. Masing-masing hadir dengan jurus pamungkasnya.

Berbicara tentang pamungkas, tentunya saya juga mempunyai karakter pamungkas yang menjadi andalan saya. Sejak seri pertamanya dan acara televisi yang saya tonton (kebetulan saya pernah menyaksikan acara ini jauh hari sebelum RCTI menayangkannya. Dari televisi parabola milik teman saya), saya mempunyai beberapa pegulat yang sudah seperti layaknya role idol bagi saya.

Saya mempunyai beberapa kategori dalam memilih karakter, selain kemisteriusan, power is everything. Karena itu saya sangat menyukai The Big Red Machine, Kane. Saya juga menyukai The Dead Man Walking atau The American Bad Ass, Undertaker. Karena selain mereka kuat, eksistensi mereka di dunia gulat juga diliputi oleh beberapa kemisteriusan.

Dalam semua gamenya yang sudah saya mainkan, saya selalu memainkan keduanya. Di samping mencoba beberapa karakter lain seperti The Rock, Hollywood Hulk Hogan, Stone Cold Steve Austin atau Bradshaw sebelum berubah menjadi JBL. Tidak lupa juga saya mencoba memainkan karakter wanita di game-game ini. Oh ya… mereka juga memasukkan karakter pegulat wanita mereka di game ini. Jadi selain banting membanting, bagi pria-pria yang berpikiran agak mesum (seperti saya mungkin…) juga bisa menikmati indahnya bentuk tubuh mereka.

Di game-game itu tidak hanya ditampilkan karakter-karakter baru, tokoh-tokoh legenda gulat juga tidak lupa mengisi daftar roster pegulat yang bisa dipilih. Walaupun kebanyakan dari mereka ditampilkan sebagai karakter rahasia seperti Bret Hart, Andre The Giant, Junkyard Dog, The Rock, Mankind, hingga Stone Cold “the rattle snake” Steve Austin. Dan untuk membuka mereka biasanya kita harus memenuhi beberapa kondisi tertentu.

Wah.. dah banyak ya…. Ya udah deh nanti saya sambung lagi lebih konsentrasi soal gamenya.. ya viva WWE… Keep on gaming.. For your own soul… peace..!

Kebersamaan Karaoke


Di sela-sela sibuknya deadline pekerjaan saya di sebuah suratkabar harian ibukota, saya dan beberapa teman-teman berniat untuk melepas penat dan mengendurkan urat syaraf. Tempat yang pertama kali terpikir oleh kami adalah… puncak! Dengan jagung bakar hangat di tangan, kami berencana akan berbincang ngalor ngidul melupakan semua pekerjaan kami.

Tapi dengan segala pertimbangan, kami memutuskan untuk mengurungkan rencana itu. Di samping terlalu jauh, kami semua tidak mempunyai waktu libur yang sama. Sehingga pasti ada teman yang mengorbankan keesokan harinya untuk dapat menghabiskan malam bersama di puncak.

Jadi kami membelokkan rencana kami ke sebuah tempat hiburan. Apa jenis hiburan yang kami tuju masih belum jelas. Tapi setelah melalui beberapa perdebatan mengenai tempat akhirnya kami memutuskan kami akan berkaraoke! Setelah mengumpulkan informasi mengenai beberapa tempat karaoke, akhirnya kami memilih tempat karaoke di daerah Fatmawati.

Tanpa membookingnya terlebih dahulu, kami bermodalkan nekad bergerombol menuju ke sana. Whatever will be… will be - lah…! Tapi mungkin dewi fortuna masih berpihak ke kami, kumpulan orang yang membutuhkan hiburan. Ternyata masih ada ruang kosong yang bisa kami masuki.

Dan kemudian kami masuk…! Setelah mengambil posisi yang paling pewe (posisi wenak-red), kami mulai beradaptasi dengan ruangan baru itu. Salah seorang dari kami langsung memulai memilih beberapa lagu awal yang akan kami nyanyikan. Beberapa orang yang memang sudah ngebet langsung menyamber mic yang tersedia.

Lagu-lagu pengiring yang mulai terdengar mengalun seakan kurang bisa mengalahkan lantangnya suara-suara kurang merdu (kalau tidak mau dibilang tidak merdu) kami. Mulai dari lagu-lagu terkenal, kurang terkenal hingga tidak terkenal kami nyanyikan tanpa tedeng aling-aling. Hanya relaksasi dan having fun yang kami kejar. Alhasil, event itu kami lakukan lebih dari sekali.

Tapi setelah beberapa kali, kebosanan mulai menjalari kami. Indikasinya, dengan berkurangnya personilnya dan semakin jarangnya event karaoke yang kami lakukan. Saat kami bernyanyi, ada nuansa yang berbeda dibanding pertama kali kami bernyanyi. Ya… itu tidak terlepas dari masalah yang menimpa tiap-tiap dari kami. Tapi hey, itu kan tujuan dari kita berkumpul di tempat itu. Kita ingin melepaskan kepenatan sembari bernyanyi di karaoke itu.

Hingga sekarang belum ada rencana kami untuk melanjutkan kebiasaan baru kami ini. Entah kapan kami akan bernyanyi lagi… “Reporter juga manusia… punya rasa punya hati… jangan samakan dengan pisau belati..” (dinyanyikan ala Candil). Hehehe…

Realita, game dan rock and roll

Beberapa waktu belakangan ini, hari-hari saya disibukkan dengan dua hal. Bergelut dengan kerasnya realita. Peluh saya berebutan keluar menuju muara keringatnya. Pikiran saya terkuras memenuhi lautan pekerjaan yang tiada hentinya. Siklus alam kerja yang terus berputar mengelilingi dunia yang penuh intrik dan sekali lagi realita.

Malamnya kembali pikiran saya tidak berhenti bekerja untuk memenuhi kepuasan batin saya. Bermain game adalah salah satu kebutuhan saya. Bahkan yang menjadi salah satu sahabat karib saya. Sahabat yang tidak pernah mengeluh terhadap saya, tapi selalu bersedia menemani saya kapan pun. Pagi, siang, sore, malam bahkan dini hari sekalipun.

The Sims 2 adalah pilihan saya. Game yang terlebih dahulu dirilis di pc ini sekarang juga mengunjungi konsol hitam PS2 kesayangan saya. Tidak ada masa yang lebih menyenangkan dibandingkan kala saya menggenggam kontroller berbentuk sayap malaikat itu. Masa itu juga bisa membawa saya terbang dengan ekstasi yang tidak terbayangkan.

Di game ini, kita bebas “mempermainkan” hidup tokoh yang kita mainkan. Memang game simulasi ini sudah menarik perhatian gamer sejak judul pertamanya. Saking adiktifnya, The Sims pertama diterbitkan dengan berbagai ekspansinya. Varian-variannya juga dibuat tak kalah menariknya. Seperti contohnya Sims Theme Park yang menempatkan kita menjadi pengelola sebuah taman hiburan.

Sementara di The Sims 2 ini kita akan dihadapkan pada berbagai variasi interaksi. Tidak hanya untuk berteman tetapi juga untuk membuat musuh. Ya… game ini juga mengajarkan kita untuk berbuat jahat. Tidak melulu game hanya ditujukan untuk anak-anak kan…? Bermain game itu juga memerlukan daya nalar yang tinggi dan pemahaman dari si pemain.

Dan The Sims 2 ini membawa kita ke sebuah permainan yang sangat kompleks. Mulai dari kita menempa diri menjadi pribadi yang lebih baik dengan membaca buku, berolahraga, memasak makanan atau hanya sekedar mencuci piring bekas makanan kita. Kita juga bisa mencari pekerjaan yang sesuai dengan keinginan kita. Tentunya dengan imbalan beberapa ratus simoleons (mata uang yang digunakan di dunia sims).

Kita juga bisa menentukan dengan siapa kita akan berhubungan. Tidak hanya dalam konteks berteman, tapi juga bercinta. Entah apakah game ini menyokong kebutuhan kaum homoseksual yang ingin berpasangan dengan teman sejenisnya (yang pasti bukan itu yang saya lakukan..!!! hehehehe…. I’m straight). Dan terakhir kita bisa memodifikasi tempat yang kita tinggali. Pastinya dengan berbekal simoleons yang cukup kita bisa memperindah tempat tinggal kita dengan membeli perabotan yang lebih baik, seperti tempat tidur, televisi layar lebar atau gitar listrik untuk ber-rock and roll…. Yeeeaaaahhhh….!!!

Omong-omong soal rock and roll, itu salah satu kebutuhan saya yang kurang tercukupi belakangan ini. Himpitan waktu pekerjaan membuat saya tidak sempat ber-hang out dengan teman-teman band saya. Untuk sekedar genjrang-genjreng dan menyanyikan lagu-lagu demo kami yang tidak kunjung ada kabarnya dari pihak label. Atau masuk studio untuk melatih skil-skil kami yang kian lama kian melarut. Mungkin untuk hal ini bisa saya ceritakan lebih banyak lagi nanti…

Kembali ke game yang harus menyita waktu istirahat saya. Entah sampai kapan saya larut dalam ekstasi bermain game itu. Sebab mengingat game ini tidak mengenal kata “tamat”. Kita bisa memainkan tokoh itu mulai dari masih bayi, anak-anak, remaja, dewasa, tua dan meninggal. Dan ketika tokoh yang kita mainkan sudah berkeluarga dan meninggal. Kita masih bisa meneruskannya dengan memainkan anak dari tokoh itu. Jadi dipastikan endless game ini akan masih lama menyita waktu saya. Paling tidak hingga kejenuhan mulai menyerang urat syaraf saya. Jadi keep on gaming...
For your own soul... Peace...!

Monday, February 20, 2006

Beliau Yang Kusayang


Ketika itu, beliau datang padaku. Tidak lain hanya untuk meminta kesediaanku. Memohon restuku. Tapi bukan untuk sesuatu yang bisa disangkal. Keputusan sudah diambil bahkan sebelum beliau datang padaku. Dengan segala alasan yang masuk akal dan seolah masuk akal, beliau berusaha meyakinkanku. Bahwa jalan ini adalah jalan terbaik yang harus diambil. Pikiranku limbung, otakku buntu. Sedemikiankah pendeknya akalku hingga harus menerimanya. Di balik kebimbangan itu, kulihat kebahagiaan beliau menyeruak mencari celah. Akhirnya keputusan itu datang dengan bijaknya. Entah siapa yang mengalah. Kuterima semuanya dengan kelapangan dada, walaupun seribu pertanyaan, sejuta perandaian datang menghujani setiap nafasku.

Beberapa bulan yang lalu, beliau datang padaku. Tidak lain untuk meminta keikhlasanku. Beberapa hal tidak berjalan sesuai perkiraannya. Wajahnya kuyu dan lesu. Gurat-gurat ketuaan semakin tampak di wajahnya yang terlihat lelah. Rambutnya semakin memutih. Hidupnya telah berubah. Begitu pun dengan milikku yang lambat laun berubah. Pintu abstrak dan nyata ku seakan terpasung oleh lilitan. Hujatan, cacian, omongan miring dan tatapan sinis menerpa apa yang dulu kusebut dengan rumah. Tempat peristirahatan terakhirku di alam ini. Kehangatan yang selalu kurindu. Gelak tawa dan uraian air mata yang pernah menghiasi dalamnya. Kini tinggal kekosongan, gelap dan dingin. Kami yang tertinggal di dalamnya, berjabat, berpeluk saling menguatkan dan memberanikan jiwa kami. Kami pasti mampu melewatinya.

Beberapa waktu lalu, beliau datang padaku. Kali ini hanya lewat suara dan pesan yang diantar kurir-kurir dunia maya. Tidak lain untuk meminta maafku. Atas semua yang pernah terjadi dan akan terjadi. Beliau menghiba maafku atas semua keputusan yang telah diambilnya. Atas semua yang telah membawaku ke hampir titik terendah dalam hidup. Aku hanya diam, hati ini telah ikhlas. Walau tidak seluruhnya. Bebannya telah berpindah. Sekarang aku tidak lagi bocah beringus yang kotor. Tapi bahagia dalam masanya. Beliau tahu itu.

Sunday, February 19, 2006

Life's Sucks


Looks like I'm tired. Heart and soul. My body exhausted, and my mind empty for nothing. My journey is still far from the end, yet it's terrifying me. How it is gonna be? Will it work out just fine, or else. So I stood there. Watching everyone go on with their lives. And I still stand here. With nothing else I can do.

No one knows but me. no one cares but me. but, yet there is someone. The one I hope I can always depend on. The one I hope will always be there for me when I need it. The one that knows me. The one that cares for me.

All the things I've done. Looks like it just leads me to another mistake. Another wrong path I take. Another chapter of my life that ruined. Miserable isn't it? that's my life. No one knows, and no one cares.

Saturday, February 18, 2006

Waktunya Liburan..!


Entah apa maksud dan tujuan sebenarnya. Tapi yang pasti sekarang saya seakan liburan. Atau paling tidak yang dilihat oleh orang lain. Mereka, walau bukan semua, memandang apa yang saya kerjakan saat ini adalah sesuatu yang simpel dan tidak membutuhkan banyak energi. ”Yah… piece of cake lah….,” ujar seseorang itu.

Pekerjaan saya di tempat saya bekerja dikurangi. Apakah karena saya terlalu baik sehingga hanya diberikan sedikit pekerjaan? Ataukah saya terlalu buruk sehingga untuk menjaga kebersihan hasil pekerjaan, saya hanya diberikan sedikit pekerjaan? “Less is better” Atau mungkin tenaga saya sudah tidak diperlukan lagi sehingga akan dapat dengan mudahnya saya diperlakukan seperti barang reject di supermarket murahan.

Tapi.. hey.. look at the bright side! Sekarang saya menjadi memiliki waktu lebih banyak untuk meng-update blog saya. Paling tidak blog ini tidak akan sekosong waktu-waktu sebelumnya.

Final Note: Yang pasti saya hanya melihat bahwa kekuatan sekali lagi berkuasa. Dan entah apa yang Tuhan tuliskan di buku besar-Nya untuk kehidupan saya.

Monday, February 06, 2006

A A D C



Ku lari ke hutan, kemudian menyanyiku.
Ku lari ke pantai kemudian teriakku.
Sepi… Sepi dan sendiri aku benci.

Ingin bingar aku mau di pasar.
Bosan aku dengan penat, enyah saja kau pekat.
Seperti berjelaga jika ku sendiri.

Pecahkan saja gelasnya biar ramai,
Biar mengaduh sampai gaduh

Ada malaikat menyulam jaring laba-laba belang di tembok keraton putih.
Kenapa tak goyangkan saja loncengnya biar terdera.
Atau aku harus lari ke hutan lalu ke pantai.

(Rako Prijanto)

No Title

Aku .......... Padamu

Kurasa, Aku sayang ................

Aku suka .................... Mungkin cinta

Mungkin ragu ............. Bahkan benci

Lalu rindu ...............

Aku .......... Padamu

Tak pernah tahu !

Sunday, February 05, 2006

Ter-Indah

Yang ter"indah" ... Karena aku tahu...
Mencintaimu adalah hal ter"indah",
... maka ... kesetiaanku akan kupertaruhkan

Walau ku sadar ... Suatu saat kau akan ...
Sudahi ... semua..
Mungkin ...

Namun,
Mencintaimu adalah yang ... ter"indah".

Saturday, February 04, 2006

PerasaanKu

Kurasa…
Makin jauh jarak hatiku dari hati-Mu !
Pudar keberadaanku dari benak-Mu !
Tersisihkanku dari perhatian-Mu !
Tak penting hadirku di hari-Mu !

Kurasa…
Makin jauh jarak hatiku dari hati-Mu !
Tak terasa getar dari genggam tangan-Mu!
Hilangnya kata rinduku dari bibir-Mu !
Miskin hatiku dari kasih sayang-Mu !

Sekali ini dalam hidup, kuingin…
Perasaanku salah… !