Thursday, June 22, 2006

Putus Cinta dan Doktrin Musik


Lelah hati yang tak kau lihat. Andai saja dapat kau rasakan letihnya jiwaku karena sifatmu.
Indah cinta yang kau berikan. Kini tiada lagi kudapatkan, teduhnya, jiwa.

Baiknya ku pergi, tinggalkan dirimu, sejauh mungkin. Untuk melupakanmu.
Dirimu yang selalu, tak pedulikanku, yang mencintaimu, yang menyayangimu.

Bila saat nanti, aku jauh. Kuharap kau mengerti, kuharap kau sadari.

Belum lama ini, salah satu teman saya harus merasakan kekecewaan dalam hidup percintaannya. Bagi saya itu merupakan suatu hal yang biasa, tapi tetap saja itu menjadi semacam pengingat untuk saya. Semua tidak ada yang sempurna dan yang baik tidak akan berlangsung selamanya.

Betapa besar kita mencinta seseorang, tak berarti apa-apa jika tidak mendapatkan timbal balik yang seimbang.

It’s good to love somebody, but it’s better to be loved


Untuk teman saya itu saya tidak bisa memberikan apa-apa selain semangat dan harapan, dia akan menemukan belahan jiwanya yang lain. Di satu sisi, saya hanya dapat menggambarkan bahwa lirik lagu ini cocok untuk kondisi hatinya.

Entah kenapa saya terdoktrin oleh selera musik adik saya. Belakangan ini saya sangat menyukai lagu-lagu dari grup band yang sedang naik daun. Seperti Ungu, Samson, dan Naff. Bukannya saya tidak menyukai mereka, tapi apa yang terjadi dengan selera musik saya dulu terhadap band-band Indonesia.

Dulu saya menggemari keindahan lirik Katon Bagaskara dalam setiap lagu KLa Project. saya kerap menikmati mengalunnya melodi yang diciptakaan oleh Yovie atau harmonisnya nada-nada yang tercipta dari otak kreatifnya Ahmad Dhani.

Saya tetap menyukai mereka, tapi dominasi nada simple pop, atau ear pop dari Ungu, Samson dan Naff memborbadir saya hingga terbius. Jadi lirik dari lagu merekalah yang terngiang di kepala saya untuk menggambarkan kondisi dari teman saya itu.

Sunday, June 18, 2006

Ikhlas… Maaf…

Terkadang keikhlasan menerima sesuatu lebih berat dibanding memaksakan kehendak. Kesedihan menerima sesuatu yang tidak kita inginkan. Kedewasaan hati yang dipertaruhkan dengan egoisme dari relung terdalam.

Ketika “ingin” mengais, mencoba merengkuh sesuatu yang bukanlah miliknya. Ketika “pikir” buta akan kebenaran di depan matanya. Kegelapan hati yang tidak berujung membawa saya, kita, mereka dalam kenyataan semu.

Maaf adalah salah satu cara melatih ikhlas. Kala maaf hanya sekedar menjadi kata penghias, ikhlas tertutup maknanya.

Thursday, June 15, 2006

In Memoriam... FORTE!

Forte adalah sebuah band yang “tidak mau” maju. Potensi mereka sangat besar. Walaupun skill musik anak-anak itu tidak terlalu tinggi, tapi tidak malu-maluin juga lah… Yang pasti keinginan mereka (waktu itu) sangat tinggi untuk memajukan band itu. Itu dulu… sekarang… Dengan alasan keterbatasan waktu dan sebagainya, mereka berjalan sendiri-sendiri…

Dan itu nasib saya sebagai salah satu anggota band tersebut. Seolah tidak memedulikan betapa waktu, tenaga dan biaya kami sudah tersita untuk memajukan band ini. Berbagai sesi rekaman dengan hasil demo yang tak kunjung masuk ke pihak label. Latihan demi latihan yang telah kami lalui, festival yang tak kunjung berprestasi… Yah mau dibilang apa… ini nasib band saya… Setiap pertemuan pasti akan berujung perpisahan.

Kalau boleh kilas balik, band ini terbentuk ketika UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa-buat yang ga tau) paduan suara kampus saya membutuhkan sebuah band pengiring untuk konser tunggal mereka. Saya yang juga tergabung di UKM itu berinisiatif untuk membuat band yang terdiri dari anggota UKM itu juga.

Setelah konser yang lumayan sukses, kami, anggota band itu memutuskan untuk mencoba berdiri sendiri. Kami merasakan nuansa seni yang sama di diri kami, dan menamakan band kami Galaxy (Gabungan Laki-laki Sexy – kalo dipikir jijay banget). Tanpa bermaksud serius, kami berlatih dan terus berlatih. Dan setelah melalui beberapa pergantian personil, kami memutuskan untuk lebih serius. Langkah pertama yang kami lakukan adalah mengubah nama menjadi FORTE.

Jujur, kami sudah mencapai pada titik jenuh ketika di antar kami masih saja berkutat membahas konsep musik kami. Saya pikir sudah tidak pada tempatnya, ketika kami sudah memiliki sekitar 7 buah lagu yang siap rekam, bahkan 5 di antaranya sudah direkam dalam bentuk CD. Kami masih memikirkan konsep musik. Tapi demokrasi mengalahkan segalanya, kami kembali mempermasalahkan konsep musik band kami.

Titik perpecahan mulai terlihat ketika saya memberitahukan bahwa saya diterima bekerja di sebuah suratkabar ibukota. Kesibukan saya pasti menghambat kemajuan band ini, demikian kata saya waktu itu. Bahkan saya sempat mengajukan opsi untuk band itu terus maju tanpa saya. Tapi mereka menolak opsi itu dengan alasan kebersamaan band.

Hasilnya, kala itu, FORTE bagaikan hidup enggan, mati tak mau. Semakin jarangnya kami latihan membuat interaksi semakin berkurang. Hingga akhirnya tanpa sadar, FORTE bubar… Paling tidak itu yang saya pikir, ketika salah satu dari kami tidak lagi berniat untuk meneruskan perjuangannya bersama band ini. Selamat Tinggal FORTE… Selamat berjumpa lagi teman-teman, musik kita akan tetap hidup di winamp komputer saya… Semoga kita dapat berkumpul kembali seperti dulu…!

Thanx n Welcome

Setahun sudah lewat dia menemani saya. Berjalan tak kenal lelah. Kadang menerobos teriknya sinar matahari, kadang bermandikan hujan lebat dan membelah genangan air. Acara demi acara yang saya datangi selalu didampingi olehnya. Hingga suatu saat dia tidak lagi bersama saya. Karena suatu sebab, kami tidak dapat lagi mengarungi kerasnya jalan Jakarta bersama.

Dia bukan siapa-siapa, tapi dia sangat berarti buat saya. Februari tahun lalu, dia datang pertama kali ke kehidupan saya. Hingga nanti datangnya orang yang akan memisahkan kami. Dan waktu itu tidak akan lama lagi.

Saya harus mencari “dia” yang baru. Bukan berarti saya tidak lagi menyayanginya. Tapi kebutuhan membuat saya harus mencari yang baru. Saat ini “dia” yang baru sudah datang ke kehidupan saya. Semoga dia tidak lagi secepat terdahulu meninggalkan saya. Amin…! Terima kasih atas pengabdianmu selama ini… Aku takkan pernah melupakanmu…!