
Lelah hati yang tak kau lihat. Andai saja dapat kau rasakan letihnya jiwaku karena sifatmu.
Indah cinta yang kau berikan. Kini tiada lagi kudapatkan, teduhnya, jiwa.
Baiknya ku pergi, tinggalkan dirimu, sejauh mungkin. Untuk melupakanmu.
Dirimu yang selalu, tak pedulikanku, yang mencintaimu, yang menyayangimu.
Bila saat nanti, aku jauh. Kuharap kau mengerti, kuharap kau sadari.
Belum lama ini, salah satu teman saya harus merasakan kekecewaan dalam hidup percintaannya. Bagi saya itu merupakan suatu hal yang biasa, tapi tetap saja itu menjadi semacam pengingat untuk saya. Semua tidak ada yang sempurna dan yang baik tidak akan berlangsung selamanya.
Betapa besar kita mencinta seseorang, tak berarti apa-apa jika tidak mendapatkan timbal balik yang seimbang.
It’s good to love somebody, but it’s better to be loved
Untuk teman saya itu saya tidak bisa memberikan apa-apa selain semangat dan harapan, dia akan menemukan belahan jiwanya yang lain. Di satu sisi, saya hanya dapat menggambarkan bahwa lirik lagu ini cocok untuk kondisi hatinya.
Entah kenapa saya terdoktrin oleh selera musik adik saya. Belakangan ini saya sangat menyukai lagu-lagu dari grup band yang sedang naik daun. Seperti Ungu, Samson, dan Naff. Bukannya saya tidak menyukai mereka, tapi apa yang terjadi dengan selera musik saya dulu terhadap band-band Indonesia.
Dulu saya menggemari keindahan lirik Katon Bagaskara dalam setiap lagu KLa Project. saya kerap menikmati mengalunnya melodi yang diciptakaan oleh Yovie atau harmonisnya nada-nada yang tercipta dari otak kreatifnya Ahmad Dhani.
Saya tetap menyukai mereka, tapi dominasi nada simple pop, atau ear pop dari Ungu, Samson dan Naff memborbadir saya hingga terbius. Jadi lirik dari lagu merekalah yang terngiang di kepala saya untuk menggambarkan kondisi dari teman saya itu.

