
Pada pertengahan tahun 1986, Square Co. Ltd. sebuah developer game Jepang yang tidak begitu terkenal merasa gerah dengan eksistensinya. Rendahnya tingkat penjualan game-game yang garapannya tidak bisa menutupi betapa tinggi budget yang dikeluarkan.
Hal ini membuat Hironobu Sakaguchi, Director of Planning Development dan semua jajaran Square merasa sangat depresi. Berdedikasi dengan jabatannya membuat Mr. Sakaguchi merasa harus berbuat sesuatu untuk menyelamatkan perusahaan tempat dia bekerja. Dengan sedikit mencontek konsep "bunuh naga dan selamatkan putri" yang dilakukan Dragon Quest buatan Enix, Mr. Sakaguchi melakukan usaha terakhir (final) untuk mewujudkan fantasinya.
Dari situ, game itu dinamakan Final Fantasy. Tapi siapa menyangka bahwa usaha terakhir Mr. Sakaguchi justru meraih sukses luar biasa. Bahkan hingga kini, gamer mengenal Final Fantasy sebagai salah satu tolok ukur untuk menilai game Role Playing Game (RPG).
“The Final Fantasy” justru menjadi “Never Ending Fantasy”
Rentetan game ini sudah mencapai serinya yang keduabelas. Itu baru serial intinya, belum serial sampingannya seperti Final Fantasy (selanjutnya saya sebut FF) Tactics, FF X-2 (sekuel langsung untuk FF X). FF Crystal Chronicle, FF VII Before Crisis yang dirilis untuk pengguna ponsel, dan yang terbaru adalah FF VII Dirge of Cerberus.
Salah satu yang menjadi kelebihan game ini adalah konsep cerita yang dikerjakan dengan serius. Bayangkan saja ketika tahun 1980-an, engine grafis untuk game belum secanggih sekarang. Karena itu Mr. Sakaguchi lebih menonjolkan kekuatan cerita untuk dijual ke gamer. Hal itu tetap berlanjut hingga FF VI.
Perubahan drastis terjadi ketika itu “the evil grey box” (playstation 1) diciptakan. FF VII hadir sebagai RPG pertama Squaresoft untuk mesin itu. Hadir dengan gambar yang jauh lebih baik dibanding seri sebelumnya, FF VII mengandalkan cerita yang tidak lagi mengambil setting zaman medieval. Formula itu menjadikan FF VII sebagai RPG terlaris hingga waktu itu.
Squaresoft mencoba meneruskannya dengan FF VIII yang mempunyai tampilan lebih cantik lagi. Karakter yang sangat cocok dijadikan idola remaja. Tapi sayangnya bagi gamer hardcore, game ini dianggap justru memperburuk reputasi FF. Alasan mereka game ini tidak mempunyai cerita yang kompleks dan sistem gameplaynya buruk. Tapi tak bisa dipungkiri, gara-gara duet Squall dan Rinoa, orang-orang yang tadinya tidak mengenal RPG menjadi tertarik untuk memainkannya. And new fans is reborn…
Di era playstation 2, FF X berusaha memperbaiki hal itu. Grafis cantik, gameplay baru dan alur cerita yang dikonsep dengan baik. Kali ini giliran kisah cinta Tidus dan Yuna yang menjadi point semua petualangan ini. FF XI hadir dengan membawa dimensi baru pada permainan RPG. Konsep onlinenya membawa gamer ke sebuah dunia maya bernama Vana Diel. Cerita dan grafis tidak terlalu ditonjolkan, meskipun memang berkualitas tinggi. Pertemuan dengan gamer dari seluruh belahan dunia itulah yang membuat banyak gamer Indonesia terbius dengan game ini. di game terbarunya FF XII, walaupun sudah tidak ada lagi Hironobu Sakaguchi di situ, mudah-mudahan dapat kembali mengembalikan sensasi bermain RPG. Nama besar Final Fantasy sebagai never ending fantasy… live on!