Monday, May 22, 2006

Lagu Suasana Hati

Jika, memang diriku bukanlah menjadi pilihan hatimu.
Mungkin, sudah takdirlah, kau dan aku takkan mesti bersatu.
Harus, selalu kau tahu, ku mencintamu di sepanjang waktuku.
Harus, selalu kau tahu, semua abadi untuk selamanya.

Karena ku yakin, cinta dalam hatiku.
Hanya milikmu, sampai akhir hidupku.
Karena ku yakin, di setiap hembus nafasku.
Hanya dirimu, satu yang selalu kurindu.


Your song represent your heart. Itu sedikit banyak saya akui benar. Saat ini, entah kenapa hati saya sangat mellow. Beberapa hari yang lalu, seorang teman saya (dia seorang perempuan) pernah berkata, “saya baru kali ini tahu ada cowok yang betah banget berlama-lama dengerin lagu mellow kaya gitu.”

Argumen saya saat itu adalah, lagu itu mencerminkan suasana hati saya. Ya… apalagi yang mau dikata. Lagu itu bagaikan mendeskripsikan hati saya dengan tepat. Bisa dari liriknya yang mengena, atau notasinya yang menyayat hati. Seperti cuplikan lirik lagu dari Ungu yang berjudul Aku Bukan Pilihan Hatimu di atas.

Secara keseluruhan, saya kurang menyukai tema lagunya. Bagaikan menghampakan sesuatu yang seharusnya indah. Tapi saya sangat menyukai notasinya. Sederhana, sangat pop dan mellow. Tapi jangan salah mengerti, saya tetap pria sejati yang menyukai musik keras. Bayangkan saja, sejak smp, sebelum tidur saya selalu mendengarkan lagu dari album And Justice For All… milik MetallicA.

Hanya saja saat ini hati saya sedang melunak. Entah sampai kapan…!

Sunday, May 21, 2006

Another One Missing in My Life


Tahun 1990-an adalah waktu saya berperilaku sangat konsumtif. Tidak hanya disibukkan oleh kegiatan ngeband yang baru merambah di awal karier bermusik saya. Uang saku saya juga habis untuk mengoleksi kartu-kartu dan komik terbitan luar negeri.

Untuk masalah komik, hati saya telah terpikat pada komik terbitan Marvel Comics. Padahal jika mau kilas balik tahun 80-an dulu. Orangtua saya banyak membelikan komik terbitan DC Comics.

Karena itu saya banyak mengenal tokoh superhero seperti Superman, Batman, Wonder Woman atau superhero yang tergabung dalam Justice League of America, Justice Society of America. Saya lebih jarang melihat kiprah superhero seperti Spiderman, Hulk atau Captain America kala itu.

Selang waktu berganti, saya lebih memilih superhero garapan Marvel seperti Spiderman, X-Men, Fantastic Four, Avengers dan yang lain. Sebuah toko komik di daerah Pondok Indah adalah tempat pilihan saya “menghamburkan” uang.

Kegemaran saya itu semakin menjadi ketika saya duduk di bangku SMA. Kala itu, bertambahnya uang saku saya, membuat koleksi komik saya semakin menggunung. Dari koleksi itu saya menjadikan beberapa komikus sebagai salah satu idola saya. Di antaranya Jim Lee, Todd McFarlane, Erik Larsen, Marc Silvestri dan Rob Liefield.

Tapi semua seakan berhenti ketika saya kuliah. Uang saku saya saat itu lebih terhamburkan untuk membeli buku literature dan hang out dengan teman-teman kuliah. Aah.. masa muda yang menyenangkan.

Apalagi ketika saya mulai serius berpacaran. (lhoo.. berarti sebelumnya ndak serius… hehehehe…). Waktu dan uang saya semakin terkuras untuk makan atau sekadar jalan bersama kekasih hati saya. Dan waktu itu berlanjut terus hingga saya bekerja saat ini.

Beberapa waktu yang lalu, teman SMA saya (yang sudah lama sekali kita lost contact) menghubungi saya lewat FS saya. Setelah melalui beberapa pembicaraan melalui ponsel, jiwa muda saya bergejolak kembali. Saya kembali mencari komik di beberapa toko buku.

Waktu membuat saya tidak sempat terlalu banyak “hunting” lagi seperti dulu. Karena itu saya hanya bisa memuaskan diri saya dengan komik baik Marvel atau DC yang diterbitkan oleh salah satu publisher dari India. Yah.. yang penting tidak terlalu tertinggal. Walaupun mereka tidak se”worth it” koleksi saya sebelumnya yang saya beli langsung dari amrik. Well, that’s another one piece missing in my life…

Thursday, May 18, 2006

Kesetiaan...!

“Teringat ku teringat, pada janjimu ku terikat.
Hanya Sekejap ku berdiri. Kulakukan sepenuh hati.
Peduli ku peduli. Siang dan malam yang berganti.
Sedihku ini tak ada arti. Jika kau lah sandaran hati.
Kau lah sandaran hati”

Sepenggal bait lagu Letto ini membuat saya terhenyak. Seakan saya dikejutkan oleh sambaran berpuluh petir di tengah tidur nyenyak saya. Sembari memegang kepala, saya berpikir apa yang telah saya lakukan.

Saya makin sadar akan apa yang disebut dengan kesetiaan. Sebuah kata yang belakangan ini semakin kehilangan maknanya. Kontra dengan sebuah blog tetangga yang juga menarik untuk dibaca. Saya merasakan bahwa kesetiaan adalah hal terpenting dalam sebuah hubungan.

Banyak komitmen tidak terselamatkan akibat kesetiaan yang terlanggar. Tidak sedikit di antaranya dilakukan oleh kedua belah pihak bersamaan. Menyedihkan. Ketika hubungan antara dua cucu Adam dan Hawa hanya tak lebih dibandingkan ketertarikan badaniah belaka.

Oktober ini, hubungan saya dengan orang yang saya nantikan menjadi bunda dari anak-anak saya sudah berjalan selama sepuluh tahun. Meskipun belum ada ikatan yang resmi antar kami berdua, kami berharap hubungan ini lebih dari sekadar ketertarikan badaniah.

Dan kesetiaan ini sudah semestinya menjadi sesuatu yang kami berdua pegang teguh. Meskipun demikian, layaknya manusia biasa, tak tertutup kemungkinan bahwa kita, saya, anda dapat jatuh dalam godaan.

Tapi… saya harap…
Kesetiaan akan menjadi sesuatu yang melandasi hubungan kami berdua. Amin…!

Monday, May 15, 2006

CiNtA...?

Apakah arti CINTA?
Sekadar melarungkan dua hati yang bertautan di luasnya samudera kasih?
Bagaimana dengan hati lain yang ikut hanyut di samudera itu?
Nasib apa yang diterimanya?

Ikut berlayar dengan dua hati sebelumnya?
Ataukah tenggelam menerima kejujuran dunia?
Akankah dia bersikeras untuk menolak takdirnya?

Memaksakan tetap bertautan dengan dua hati yang sudah terlebih dahulu bertautan?
Kala dia memaksakannya, indahkah yang ia dapatkan nanti?
Keegoisan hati yang belum tentu memenangkan segalanya.