Tuesday, February 28, 2006

Bergulat Tanpa Keringat


Gulat adalah olahraga yang keras. Tapi di balik sisi kerasnya, gulat masih menyimpan nilai-nilai hiburan yang dapat disajikan oleh penonton. Terus terang, saya kurang tertarik dengan olahraga gulat, khususnya gulat yang dipertandingkan sebagai salah satu cabang olahraga.

Tapi beda cerita ketika kita berbicara soal gulat dilihat dari kacamata sportainment. Sebuah acara yang menggabungkan teknik bergulat dengan entertainment. Belum lama berselang, sekitar beberapa tahun yang lalu, di negeri paman sam berdiri beberapa organisasi yang memfasilitasi bentuk sportainment seperti ini.

Yang paling terkenal hingga kini adalah World Wrestling Entertainment (WWE) atau yang dulu dikenal dengan World Wrestling Federation (WWF). Berbagai tokoh gulat terkenal berangkat dari organisasi ini, bahkan beberapa di antaranya mampu menembus dunia Hollywood.

WWE mempunyai beragam acara reguler yang ditayangkan untuk berbagai stasiun televisi. Contohnya Smackdown!, Raw, Heat, Survivor Series hingga yang paling terkenal adalah Wrestlemania. Saking terkenalnya hingga membuat stasiun televisi swasta pertama (RCTI-red) tertarik untuk membeli hak tayangnya di Indonesia. Walaupun dengan jadwal pemutarannya tertinggal jauh dibanding di negara aslinya, walaupun dengan duo mc yang sejujurnya sangat annoying buat saya, tapi tetap saja membuat saya selalu ingin menyaksikan acara itu.

Walaupun saat ini gaungnya mulai hilang di bumi pertiwi kita, tapi saya sangat menghargai usaha Lativi yang kembali membeli hak tayang siar dari salah satu show reguler WWE di Indonesia. Dan dengan jadwal pemutaran yang tidak terlalu jauh, saya kembali dapat menikmati beberapa pegulat favorit saya beraksi.

Kegemaran saya akan gulat sportainment itu tidak hanya di layar televisi. Seperti biasa, game selalu menjadi acuan saya mencari hiburan. Dan game-game yang berbau gulat juga tidak terhitung banyaknya. Tapi, karena saya lebih banyak mengenal pegulat di zaman WWF/WWE, jadi saya lebih memilih game yang membeli lisensi untuk menggunakan pegulat-pegulat dari organisasi itu.

Dari zaman PS 1 masih menjadi primadona gamer, saya sudah memilih game-game gulat. Tapi yang paling menarik perhatian saya adalah serial Smackdown!. Yang kemudian diteruskan dalam Smackdown! Know Your Role, kenikmatan saya bermain game jadi lebih saya rasakan.

Setelah era PS2 dimulai, pegulat-pegulat WWE juga menjadi jaminan keasyikan bermain. Dibuat oleh THQ dan Yuke’s, hingga sekarang sudah ada lima game WWE. Berturut-turut adalah Smackdown! Just Bring IT, Smackdown! Shut Your Mouth, Smackdown! Here Comes The Pain, WWE Smackdown! Vs Raw, dan yang terbaru WWE Smackdown! Vs Raw 2006. Ini baru gamenya yang dirilis di PS 1 dan 2 (karena hanya dua konsol itu yang saya miliki. Saya baru berpikiran menabung untuk membeli PS 3 nanti)

Dengan jumlah pemain yang banyak dan bervariasi, gamer dapat merasakan dan memratekkan teknik gulat yang tidak bisa mereka lakukan di dunia nyata. Bagaimana ketika kita bermain sebagai Rey Misterio yang lincah atau kekuatan yang tidak terkalahkan dari si raksasa Big Show. Masing-masing hadir dengan jurus pamungkasnya.

Berbicara tentang pamungkas, tentunya saya juga mempunyai karakter pamungkas yang menjadi andalan saya. Sejak seri pertamanya dan acara televisi yang saya tonton (kebetulan saya pernah menyaksikan acara ini jauh hari sebelum RCTI menayangkannya. Dari televisi parabola milik teman saya), saya mempunyai beberapa pegulat yang sudah seperti layaknya role idol bagi saya.

Saya mempunyai beberapa kategori dalam memilih karakter, selain kemisteriusan, power is everything. Karena itu saya sangat menyukai The Big Red Machine, Kane. Saya juga menyukai The Dead Man Walking atau The American Bad Ass, Undertaker. Karena selain mereka kuat, eksistensi mereka di dunia gulat juga diliputi oleh beberapa kemisteriusan.

Dalam semua gamenya yang sudah saya mainkan, saya selalu memainkan keduanya. Di samping mencoba beberapa karakter lain seperti The Rock, Hollywood Hulk Hogan, Stone Cold Steve Austin atau Bradshaw sebelum berubah menjadi JBL. Tidak lupa juga saya mencoba memainkan karakter wanita di game-game ini. Oh ya… mereka juga memasukkan karakter pegulat wanita mereka di game ini. Jadi selain banting membanting, bagi pria-pria yang berpikiran agak mesum (seperti saya mungkin…) juga bisa menikmati indahnya bentuk tubuh mereka.

Di game-game itu tidak hanya ditampilkan karakter-karakter baru, tokoh-tokoh legenda gulat juga tidak lupa mengisi daftar roster pegulat yang bisa dipilih. Walaupun kebanyakan dari mereka ditampilkan sebagai karakter rahasia seperti Bret Hart, Andre The Giant, Junkyard Dog, The Rock, Mankind, hingga Stone Cold “the rattle snake” Steve Austin. Dan untuk membuka mereka biasanya kita harus memenuhi beberapa kondisi tertentu.

Wah.. dah banyak ya…. Ya udah deh nanti saya sambung lagi lebih konsentrasi soal gamenya.. ya viva WWE… Keep on gaming.. For your own soul… peace..!

Kebersamaan Karaoke


Di sela-sela sibuknya deadline pekerjaan saya di sebuah suratkabar harian ibukota, saya dan beberapa teman-teman berniat untuk melepas penat dan mengendurkan urat syaraf. Tempat yang pertama kali terpikir oleh kami adalah… puncak! Dengan jagung bakar hangat di tangan, kami berencana akan berbincang ngalor ngidul melupakan semua pekerjaan kami.

Tapi dengan segala pertimbangan, kami memutuskan untuk mengurungkan rencana itu. Di samping terlalu jauh, kami semua tidak mempunyai waktu libur yang sama. Sehingga pasti ada teman yang mengorbankan keesokan harinya untuk dapat menghabiskan malam bersama di puncak.

Jadi kami membelokkan rencana kami ke sebuah tempat hiburan. Apa jenis hiburan yang kami tuju masih belum jelas. Tapi setelah melalui beberapa perdebatan mengenai tempat akhirnya kami memutuskan kami akan berkaraoke! Setelah mengumpulkan informasi mengenai beberapa tempat karaoke, akhirnya kami memilih tempat karaoke di daerah Fatmawati.

Tanpa membookingnya terlebih dahulu, kami bermodalkan nekad bergerombol menuju ke sana. Whatever will be… will be - lah…! Tapi mungkin dewi fortuna masih berpihak ke kami, kumpulan orang yang membutuhkan hiburan. Ternyata masih ada ruang kosong yang bisa kami masuki.

Dan kemudian kami masuk…! Setelah mengambil posisi yang paling pewe (posisi wenak-red), kami mulai beradaptasi dengan ruangan baru itu. Salah seorang dari kami langsung memulai memilih beberapa lagu awal yang akan kami nyanyikan. Beberapa orang yang memang sudah ngebet langsung menyamber mic yang tersedia.

Lagu-lagu pengiring yang mulai terdengar mengalun seakan kurang bisa mengalahkan lantangnya suara-suara kurang merdu (kalau tidak mau dibilang tidak merdu) kami. Mulai dari lagu-lagu terkenal, kurang terkenal hingga tidak terkenal kami nyanyikan tanpa tedeng aling-aling. Hanya relaksasi dan having fun yang kami kejar. Alhasil, event itu kami lakukan lebih dari sekali.

Tapi setelah beberapa kali, kebosanan mulai menjalari kami. Indikasinya, dengan berkurangnya personilnya dan semakin jarangnya event karaoke yang kami lakukan. Saat kami bernyanyi, ada nuansa yang berbeda dibanding pertama kali kami bernyanyi. Ya… itu tidak terlepas dari masalah yang menimpa tiap-tiap dari kami. Tapi hey, itu kan tujuan dari kita berkumpul di tempat itu. Kita ingin melepaskan kepenatan sembari bernyanyi di karaoke itu.

Hingga sekarang belum ada rencana kami untuk melanjutkan kebiasaan baru kami ini. Entah kapan kami akan bernyanyi lagi… “Reporter juga manusia… punya rasa punya hati… jangan samakan dengan pisau belati..” (dinyanyikan ala Candil). Hehehe…

Realita, game dan rock and roll

Beberapa waktu belakangan ini, hari-hari saya disibukkan dengan dua hal. Bergelut dengan kerasnya realita. Peluh saya berebutan keluar menuju muara keringatnya. Pikiran saya terkuras memenuhi lautan pekerjaan yang tiada hentinya. Siklus alam kerja yang terus berputar mengelilingi dunia yang penuh intrik dan sekali lagi realita.

Malamnya kembali pikiran saya tidak berhenti bekerja untuk memenuhi kepuasan batin saya. Bermain game adalah salah satu kebutuhan saya. Bahkan yang menjadi salah satu sahabat karib saya. Sahabat yang tidak pernah mengeluh terhadap saya, tapi selalu bersedia menemani saya kapan pun. Pagi, siang, sore, malam bahkan dini hari sekalipun.

The Sims 2 adalah pilihan saya. Game yang terlebih dahulu dirilis di pc ini sekarang juga mengunjungi konsol hitam PS2 kesayangan saya. Tidak ada masa yang lebih menyenangkan dibandingkan kala saya menggenggam kontroller berbentuk sayap malaikat itu. Masa itu juga bisa membawa saya terbang dengan ekstasi yang tidak terbayangkan.

Di game ini, kita bebas “mempermainkan” hidup tokoh yang kita mainkan. Memang game simulasi ini sudah menarik perhatian gamer sejak judul pertamanya. Saking adiktifnya, The Sims pertama diterbitkan dengan berbagai ekspansinya. Varian-variannya juga dibuat tak kalah menariknya. Seperti contohnya Sims Theme Park yang menempatkan kita menjadi pengelola sebuah taman hiburan.

Sementara di The Sims 2 ini kita akan dihadapkan pada berbagai variasi interaksi. Tidak hanya untuk berteman tetapi juga untuk membuat musuh. Ya… game ini juga mengajarkan kita untuk berbuat jahat. Tidak melulu game hanya ditujukan untuk anak-anak kan…? Bermain game itu juga memerlukan daya nalar yang tinggi dan pemahaman dari si pemain.

Dan The Sims 2 ini membawa kita ke sebuah permainan yang sangat kompleks. Mulai dari kita menempa diri menjadi pribadi yang lebih baik dengan membaca buku, berolahraga, memasak makanan atau hanya sekedar mencuci piring bekas makanan kita. Kita juga bisa mencari pekerjaan yang sesuai dengan keinginan kita. Tentunya dengan imbalan beberapa ratus simoleons (mata uang yang digunakan di dunia sims).

Kita juga bisa menentukan dengan siapa kita akan berhubungan. Tidak hanya dalam konteks berteman, tapi juga bercinta. Entah apakah game ini menyokong kebutuhan kaum homoseksual yang ingin berpasangan dengan teman sejenisnya (yang pasti bukan itu yang saya lakukan..!!! hehehehe…. I’m straight). Dan terakhir kita bisa memodifikasi tempat yang kita tinggali. Pastinya dengan berbekal simoleons yang cukup kita bisa memperindah tempat tinggal kita dengan membeli perabotan yang lebih baik, seperti tempat tidur, televisi layar lebar atau gitar listrik untuk ber-rock and roll…. Yeeeaaaahhhh….!!!

Omong-omong soal rock and roll, itu salah satu kebutuhan saya yang kurang tercukupi belakangan ini. Himpitan waktu pekerjaan membuat saya tidak sempat ber-hang out dengan teman-teman band saya. Untuk sekedar genjrang-genjreng dan menyanyikan lagu-lagu demo kami yang tidak kunjung ada kabarnya dari pihak label. Atau masuk studio untuk melatih skil-skil kami yang kian lama kian melarut. Mungkin untuk hal ini bisa saya ceritakan lebih banyak lagi nanti…

Kembali ke game yang harus menyita waktu istirahat saya. Entah sampai kapan saya larut dalam ekstasi bermain game itu. Sebab mengingat game ini tidak mengenal kata “tamat”. Kita bisa memainkan tokoh itu mulai dari masih bayi, anak-anak, remaja, dewasa, tua dan meninggal. Dan ketika tokoh yang kita mainkan sudah berkeluarga dan meninggal. Kita masih bisa meneruskannya dengan memainkan anak dari tokoh itu. Jadi dipastikan endless game ini akan masih lama menyita waktu saya. Paling tidak hingga kejenuhan mulai menyerang urat syaraf saya. Jadi keep on gaming...
For your own soul... Peace...!

Monday, February 20, 2006

Beliau Yang Kusayang


Ketika itu, beliau datang padaku. Tidak lain hanya untuk meminta kesediaanku. Memohon restuku. Tapi bukan untuk sesuatu yang bisa disangkal. Keputusan sudah diambil bahkan sebelum beliau datang padaku. Dengan segala alasan yang masuk akal dan seolah masuk akal, beliau berusaha meyakinkanku. Bahwa jalan ini adalah jalan terbaik yang harus diambil. Pikiranku limbung, otakku buntu. Sedemikiankah pendeknya akalku hingga harus menerimanya. Di balik kebimbangan itu, kulihat kebahagiaan beliau menyeruak mencari celah. Akhirnya keputusan itu datang dengan bijaknya. Entah siapa yang mengalah. Kuterima semuanya dengan kelapangan dada, walaupun seribu pertanyaan, sejuta perandaian datang menghujani setiap nafasku.

Beberapa bulan yang lalu, beliau datang padaku. Tidak lain untuk meminta keikhlasanku. Beberapa hal tidak berjalan sesuai perkiraannya. Wajahnya kuyu dan lesu. Gurat-gurat ketuaan semakin tampak di wajahnya yang terlihat lelah. Rambutnya semakin memutih. Hidupnya telah berubah. Begitu pun dengan milikku yang lambat laun berubah. Pintu abstrak dan nyata ku seakan terpasung oleh lilitan. Hujatan, cacian, omongan miring dan tatapan sinis menerpa apa yang dulu kusebut dengan rumah. Tempat peristirahatan terakhirku di alam ini. Kehangatan yang selalu kurindu. Gelak tawa dan uraian air mata yang pernah menghiasi dalamnya. Kini tinggal kekosongan, gelap dan dingin. Kami yang tertinggal di dalamnya, berjabat, berpeluk saling menguatkan dan memberanikan jiwa kami. Kami pasti mampu melewatinya.

Beberapa waktu lalu, beliau datang padaku. Kali ini hanya lewat suara dan pesan yang diantar kurir-kurir dunia maya. Tidak lain untuk meminta maafku. Atas semua yang pernah terjadi dan akan terjadi. Beliau menghiba maafku atas semua keputusan yang telah diambilnya. Atas semua yang telah membawaku ke hampir titik terendah dalam hidup. Aku hanya diam, hati ini telah ikhlas. Walau tidak seluruhnya. Bebannya telah berpindah. Sekarang aku tidak lagi bocah beringus yang kotor. Tapi bahagia dalam masanya. Beliau tahu itu.

Sunday, February 19, 2006

Life's Sucks


Looks like I'm tired. Heart and soul. My body exhausted, and my mind empty for nothing. My journey is still far from the end, yet it's terrifying me. How it is gonna be? Will it work out just fine, or else. So I stood there. Watching everyone go on with their lives. And I still stand here. With nothing else I can do.

No one knows but me. no one cares but me. but, yet there is someone. The one I hope I can always depend on. The one I hope will always be there for me when I need it. The one that knows me. The one that cares for me.

All the things I've done. Looks like it just leads me to another mistake. Another wrong path I take. Another chapter of my life that ruined. Miserable isn't it? that's my life. No one knows, and no one cares.

Saturday, February 18, 2006

Waktunya Liburan..!


Entah apa maksud dan tujuan sebenarnya. Tapi yang pasti sekarang saya seakan liburan. Atau paling tidak yang dilihat oleh orang lain. Mereka, walau bukan semua, memandang apa yang saya kerjakan saat ini adalah sesuatu yang simpel dan tidak membutuhkan banyak energi. ”Yah… piece of cake lah….,” ujar seseorang itu.

Pekerjaan saya di tempat saya bekerja dikurangi. Apakah karena saya terlalu baik sehingga hanya diberikan sedikit pekerjaan? Ataukah saya terlalu buruk sehingga untuk menjaga kebersihan hasil pekerjaan, saya hanya diberikan sedikit pekerjaan? “Less is better” Atau mungkin tenaga saya sudah tidak diperlukan lagi sehingga akan dapat dengan mudahnya saya diperlakukan seperti barang reject di supermarket murahan.

Tapi.. hey.. look at the bright side! Sekarang saya menjadi memiliki waktu lebih banyak untuk meng-update blog saya. Paling tidak blog ini tidak akan sekosong waktu-waktu sebelumnya.

Final Note: Yang pasti saya hanya melihat bahwa kekuatan sekali lagi berkuasa. Dan entah apa yang Tuhan tuliskan di buku besar-Nya untuk kehidupan saya.

Monday, February 06, 2006

A A D C



Ku lari ke hutan, kemudian menyanyiku.
Ku lari ke pantai kemudian teriakku.
Sepi… Sepi dan sendiri aku benci.

Ingin bingar aku mau di pasar.
Bosan aku dengan penat, enyah saja kau pekat.
Seperti berjelaga jika ku sendiri.

Pecahkan saja gelasnya biar ramai,
Biar mengaduh sampai gaduh

Ada malaikat menyulam jaring laba-laba belang di tembok keraton putih.
Kenapa tak goyangkan saja loncengnya biar terdera.
Atau aku harus lari ke hutan lalu ke pantai.

(Rako Prijanto)

No Title

Aku .......... Padamu

Kurasa, Aku sayang ................

Aku suka .................... Mungkin cinta

Mungkin ragu ............. Bahkan benci

Lalu rindu ...............

Aku .......... Padamu

Tak pernah tahu !

Sunday, February 05, 2006

Ter-Indah

Yang ter"indah" ... Karena aku tahu...
Mencintaimu adalah hal ter"indah",
... maka ... kesetiaanku akan kupertaruhkan

Walau ku sadar ... Suatu saat kau akan ...
Sudahi ... semua..
Mungkin ...

Namun,
Mencintaimu adalah yang ... ter"indah".

Saturday, February 04, 2006

PerasaanKu

Kurasa…
Makin jauh jarak hatiku dari hati-Mu !
Pudar keberadaanku dari benak-Mu !
Tersisihkanku dari perhatian-Mu !
Tak penting hadirku di hari-Mu !

Kurasa…
Makin jauh jarak hatiku dari hati-Mu !
Tak terasa getar dari genggam tangan-Mu!
Hilangnya kata rinduku dari bibir-Mu !
Miskin hatiku dari kasih sayang-Mu !

Sekali ini dalam hidup, kuingin…
Perasaanku salah… !