
Di sela-sela sibuknya deadline pekerjaan saya di sebuah suratkabar harian ibukota, saya dan beberapa teman-teman berniat untuk melepas penat dan mengendurkan urat syaraf. Tempat yang pertama kali terpikir oleh kami adalah… puncak! Dengan jagung bakar hangat di tangan, kami berencana akan berbincang ngalor ngidul melupakan semua pekerjaan kami.
Tapi dengan segala pertimbangan, kami memutuskan untuk mengurungkan rencana itu. Di samping terlalu jauh, kami semua tidak mempunyai waktu libur yang sama. Sehingga pasti ada teman yang mengorbankan keesokan harinya untuk dapat menghabiskan malam bersama di puncak.
Jadi kami membelokkan rencana kami ke sebuah tempat hiburan. Apa jenis hiburan yang kami tuju masih belum jelas. Tapi setelah melalui beberapa perdebatan mengenai tempat akhirnya kami memutuskan kami akan berkaraoke! Setelah mengumpulkan informasi mengenai beberapa tempat karaoke, akhirnya kami memilih tempat karaoke di daerah Fatmawati.
Tanpa membookingnya terlebih dahulu, kami bermodalkan nekad bergerombol menuju ke sana. Whatever will be… will be - lah…! Tapi mungkin dewi fortuna masih berpihak ke kami, kumpulan orang yang membutuhkan hiburan. Ternyata masih ada ruang kosong yang bisa kami masuki.
Dan kemudian kami masuk…! Setelah mengambil posisi yang paling pewe (posisi wenak-red), kami mulai beradaptasi dengan ruangan baru itu. Salah seorang dari kami langsung memulai memilih beberapa lagu awal yang akan kami nyanyikan. Beberapa orang yang memang sudah ngebet langsung menyamber mic yang tersedia.
Lagu-lagu pengiring yang mulai terdengar mengalun seakan kurang bisa mengalahkan lantangnya suara-suara kurang merdu (kalau tidak mau dibilang tidak merdu) kami. Mulai dari lagu-lagu terkenal, kurang terkenal hingga tidak terkenal kami nyanyikan tanpa tedeng aling-aling. Hanya relaksasi dan having fun yang kami kejar. Alhasil, event itu kami lakukan lebih dari sekali.
Tapi setelah beberapa kali, kebosanan mulai menjalari kami. Indikasinya, dengan berkurangnya personilnya dan semakin jarangnya event karaoke yang kami lakukan. Saat kami bernyanyi, ada nuansa yang berbeda dibanding pertama kali kami bernyanyi. Ya… itu tidak terlepas dari masalah yang menimpa tiap-tiap dari kami. Tapi hey, itu kan tujuan dari kita berkumpul di tempat itu. Kita ingin melepaskan kepenatan sembari bernyanyi di karaoke itu.
Hingga sekarang belum ada rencana kami untuk melanjutkan kebiasaan baru kami ini. Entah kapan kami akan bernyanyi lagi… “Reporter juga manusia… punya rasa punya hati… jangan samakan dengan pisau belati..” (dinyanyikan ala Candil). Hehehe…
2 comments:
Alow, salam kenal :)
teman sekantor Wahyu yah ?
Tulisannya bagus2
weleh weleh....boleh neh diajak...???
tes..tes..tes..
manu e ...
manu e ...
cuca rowo....
cuca rowo ...
dowo buntut e....
dinyanyikan nada dasar A (ancur) ala campursari inul kolaborasi ama oma irama....
Post a Comment