Beberapa waktu belakangan ini, hari-hari saya disibukkan dengan dua hal. Bergelut dengan kerasnya realita. Peluh saya berebutan keluar menuju muara keringatnya. Pikiran saya terkuras memenuhi lautan pekerjaan yang tiada hentinya. Siklus alam kerja yang terus berputar mengelilingi dunia yang penuh intrik dan sekali lagi realita. Malamnya kembali pikiran saya tidak berhenti bekerja untuk memenuhi kepuasan batin saya. Bermain game adalah salah satu kebutuhan saya. Bahkan yang menjadi salah satu sahabat karib saya. Sahabat yang tidak pernah mengeluh terhadap saya, tapi selalu bersedia menemani saya kapan pun. Pagi, siang, sore, malam bahkan dini hari sekalipun.
The Sims 2 adalah pilihan saya. Game yang terlebih dahulu dirilis di pc ini sekarang juga mengunjungi konsol hitam PS2 kesayangan saya. Tidak ada masa yang lebih menyenangkan dibandingkan kala saya menggenggam kontroller berbentuk sayap malaikat itu. Masa itu juga bisa membawa saya terbang dengan ekstasi yang tidak terbayangkan.
Di game ini, kita bebas “mempermainkan” hidup tokoh yang kita mainkan. Memang game simulasi ini sudah menarik perhatian gamer sejak judul pertamanya. Saking adiktifnya, The Sims pertama diterbitkan dengan berbagai ekspansinya. Varian-variannya juga dibuat tak kalah menariknya. Seperti contohnya Sims Theme Park yang menempatkan kita menjadi pengelola sebuah taman hiburan.
Sementara di The Sims 2 ini kita akan dihadapkan pada berbagai variasi interaksi. Tidak hanya untuk berteman tetapi juga untuk membuat musuh. Ya… game ini juga mengajarkan kita untuk berbuat jahat. Tidak melulu game hanya ditujukan untuk anak-anak kan…? Bermain game itu juga memerlukan daya nalar yang tinggi dan pemahaman dari si pemain.
Dan The Sims 2 ini membawa kita ke sebuah permainan yang sangat kompleks. Mulai dari kita menempa diri menjadi pribadi yang lebih baik dengan membaca buku, berolahraga, memasak makanan atau hanya sekedar mencuci piring bekas makanan kita. Kita juga bisa mencari pekerjaan yang sesuai dengan keinginan kita. Tentunya dengan imbalan beberapa ratus simoleons (mata uang yang digunakan di dunia sims).
Kita juga bisa menentukan dengan siapa kita akan berhubungan. Tidak hanya dalam konteks berteman, tapi juga bercinta. Entah apakah game ini menyokong kebutuhan kaum homoseksual yang ingin berpasangan dengan teman sejenisnya (yang pasti bukan itu yang saya lakukan..!!! hehehehe…. I’m straight). Dan terakhir kita bisa memodifikasi tempat yang kita tinggali. Pastinya dengan berbekal simoleons yang cukup kita bisa memperindah tempat tinggal kita dengan membeli perabotan yang lebih baik, seperti tempat tidur, televisi layar lebar atau gitar listrik untuk ber-rock and roll…. Yeeeaaaahhhh….!!!
Omong-omong soal rock and roll, itu salah satu kebutuhan saya yang kurang tercukupi belakangan ini. Himpitan waktu pekerjaan membuat saya tidak sempat ber-hang out dengan teman-teman band saya. Untuk sekedar genjrang-genjreng dan menyanyikan lagu-lagu demo kami yang tidak kunjung ada kabarnya dari pihak label. Atau masuk studio untuk melatih skil-skil kami yang kian lama kian melarut. Mungkin untuk hal ini bisa saya ceritakan lebih banyak lagi nanti…
Kembali ke game yang harus menyita waktu istirahat saya. Entah sampai kapan saya larut dalam ekstasi bermain game itu. Sebab mengingat game ini tidak mengenal kata “tamat”. Kita bisa memainkan tokoh itu mulai dari masih bayi, anak-anak, remaja, dewasa, tua dan meninggal. Dan ketika tokoh yang kita mainkan sudah berkeluarga dan meninggal. Kita masih bisa meneruskannya dengan memainkan anak dari tokoh itu. Jadi dipastikan endless game ini akan masih lama menyita waktu saya. Paling tidak hingga kejenuhan mulai menyerang urat syaraf saya. Jadi keep on gaming...
For your own soul... Peace...!
2 comments:
Endless game, justru itu sisi adiktifnya. Kita enggak bakalan tamat meski kita udah bulukan mainnya. Btw, nice review...Terusin bikin review gamenya
game berbuat jahat ????
tunggu...tunggu...masih gw cerna..
Post a Comment