Sepertinya sudah agak terlambat kalau saya mengucapkan selamat atas ulang tahun kemerdekaan ke-61 bagi Republik tercinta ini. Tapi saya hanya ingin memaknai lebih dalam apa artinya sebuah kemerdekaan. Ada yang mengatakan merdeka adalah ketika kita sudah bebas mengeluarkan ekspresi. Sebebas mungkin hingga semua orang tahu apa yang kita inginkan. Setelah era yang “katanya” reformasi, banyak orang yang entah keblinger atau “terlalu” luas menginterpretasikan makna kemerdekaan berekspresi.
Tapi jika dilihat dari lingkungan terkecil yang saya hadapi sehari-hari. Kemerdekaan berekspresi itu tidak saya temukan! Sumpah! Saya sudah muak dengan yang namanya pengekangan berekspresi. Bahkan hanya untuk mengutarakan uneg-uneg di hati, masih mengalami pengekangan.
Salah satu bukti konkritnya, pada bulan Juli yang lalu, saya sama sekali tidak mempunyai kesempatan untuk meng-update blog ini. Bukan tidak sempat, tapi karena saya tidak memiliki akses untuk sekadar membuka blog ini. Dengan alasan menghambat kinerja pekerjaan dan berbahaya bagi keamanan CPU masing-masing, banyak situs di internet yang harus diblokir.
Saya tidak menyalahkan alasannya atau orang yang terpaksa melakukan keputusan itu. Saya juga tidak heran jika situs yang berbau porno menjadi korban pemblokiran itu. Tapi kenapa situs seperti blogger juga harus mengalaminya, itu yang menurut saya kurang masuk akal. Biasanya para blogger adalah orang yang ingin mengekspresikan dirinya lebih jauh lagi. Agar orang-orang yang membaca jurnalnya sedikit banyak mengerti akan eksistensinya.
Untungnya titik terang mulai muncul ketika saya berbincang dengan salah satu teman yang dapat mengusahakan pemblokiran itu sedikit dikurangi. Dan hasilnya, blog ini kembali ter-update. Terimakasih teman…! Akhirnya kembali saya sedikit merasa mendapatkan kemerdekaan…! Merdeka…!
