“Teringat ku teringat, pada janjimu ku terikat. Hanya Sekejap ku berdiri. Kulakukan sepenuh hati.
Peduli ku peduli. Siang dan malam yang berganti.
Sedihku ini tak ada arti. Jika kau lah sandaran hati.
Kau lah sandaran hati”
Sepenggal bait lagu Letto ini membuat saya terhenyak. Seakan saya dikejutkan oleh sambaran berpuluh petir di tengah tidur nyenyak saya. Sembari memegang kepala, saya berpikir apa yang telah saya lakukan.
Saya makin sadar akan apa yang disebut dengan kesetiaan. Sebuah kata yang belakangan ini semakin kehilangan maknanya. Kontra dengan sebuah blog tetangga yang juga menarik untuk dibaca. Saya merasakan bahwa kesetiaan adalah hal terpenting dalam sebuah hubungan.
Banyak komitmen tidak terselamatkan akibat kesetiaan yang terlanggar. Tidak sedikit di antaranya dilakukan oleh kedua belah pihak bersamaan. Menyedihkan. Ketika hubungan antara dua cucu Adam dan Hawa hanya tak lebih dibandingkan ketertarikan badaniah belaka.
Oktober ini, hubungan saya dengan orang yang saya nantikan menjadi bunda dari anak-anak saya sudah berjalan selama sepuluh tahun. Meskipun belum ada ikatan yang resmi antar kami berdua, kami berharap hubungan ini lebih dari sekadar ketertarikan badaniah.
Dan kesetiaan ini sudah semestinya menjadi sesuatu yang kami berdua pegang teguh. Meskipun demikian, layaknya manusia biasa, tak tertutup kemungkinan bahwa kita, saya, anda dapat jatuh dalam godaan.
Tapi… saya harap…
Kesetiaan akan menjadi sesuatu yang melandasi hubungan kami berdua. Amin…!
1 comment:
huwaaaaaaaaaaa hiks...
gw masih mempelajari tulisan ini ama gambarnya ?!!!
trus yang mana gambar setia ituh ? hiks..
Post a Comment