Wednesday, March 08, 2006

Selamat Ulang Tahun Dik...!


Sembilan belas tahun yang lalu…
Pagi hari itu, tangismu memecah kesunyian bangsal rumah sakit. Keinginanku selama lima tahun silam terpenuhi sudah. Kehadiran seorang adik laki-laki akan lebih melengkapi indahnya kehidupanku. Sesederhana itu pola pikir bocah berumur sepuluh tahun yang menginginkan adik. Tidak ada perasaan tersaingi atau cemburu akan kehadiran mahluk mungil itu. Yang ada hanya luapan kegembiraan yang tak terkira.

Empat belas tahun yang lalu…
Bayi kecil itu sudah berumur lima tahun. Tawa riang dan celoteh lucunya sudah menemaniku dalam berbagai variannya. Berbagai aktivitasnya membuatku merasa menjadi seorang kakak yang sering aku lihat di “dunia” luar. Aku memanggulnya di gendonganku ketika dia terjatuh. Aku mendorongnya bersepeda berkeliling rumahku. Aku menggodanya ketika dia mengantuk di peraduannya. Hanya untuk sekadar kembali melihat kelakuan lucunya.

Untuk lebih menambah kebahagiaan hari ulang tahunnya, orangtuaku membuatkan sebuah acara untuknya. Walaupun aku yakin dia tidak mengetahui apa yang terjadi saat itu, tapi kebahagiaan jelas tersirat di wajahnya melihat seluruh keluarganya berkumpul di rumahnya. Dengan kue tart di depannya, tumpukan kado-kado, semua orang yang disayanginya berkumpul di meja, menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuknya. Aku merasa tidak ada kebahagiaan lebih di hari ulang tahun seorang anak daripada ini.

Dua tahun yang lalu…
Bayi kecil itu sudah berumur tujuh belas tahun. Secarik Kartu Tanda Penduduk sudah tersemat rapih di dompetnya. Berbagai pengalaman hidup sudah membuatnya lebih dewasa. Aku yang bangga melihatnya tumbuh berharap dia menjadi pribadi yang lebih baik. Kali ini sesuai untuk lebih menunjukkan eksistensinya pada pergaulannya, dia berkumpul bersama teman-temannya. Bakar ayam dan ceplok telur.

Hari ini…
Bayi kecil itu sudah lebih bijaksana memandang hidupnya. Apa yang baik dan buruk. Membuatku lebih bangga melihatnya tumbuh. Tidak ada manusia yang sempurna, kadang kelakuannya masih memancing keluar amarahku dari peraduannya. Tapi sedewasanya dia, aku masih menganggapnya seorang adik kecil yang harus aku perhatikan. Tepat di malam hari ulang tahunnya, aku menyesal dia harus mengalami sesuatu yang tidak perlu dia alami. Kekecewaannya akan hidup yang dijalaninya masih ditutupi dengan tawa dan celotehnya.

Tidak selucu sembilan belas tahun yang lalu. Tidak sehangat pestanya empat belas tahun yang lalu. Dan tidak semeriah ketika dia berkumpul dengan konconya. Hari ini kami duduk diam di garasi, merenungi apa yang terjadi malam itu. Apa yang seharusnya dan sebaiknya kami lakukan. Tidak ada kado, tidak ada keramaian, yang ada hanya sebuah kue kecil dengan dua lilin menyala di atasnya.

Dini hari itu, aku mendatangi kamarnya, ku ucapkan selamat dan memohon maaf atas apa yang terjadi selama hidupnya. Aku sangat menyesal aku tidak dapat memberikan apapun padanya. Dan dia menjawab, “melihat kamu pulang sudah menjadi kado buatku.” Tahukah dia, itu perkataan termanis yang pernah dia ucapkan. Sekali lagi aku memohon maaf dan meminta dia untuk tegar menjalani hidup ini. Tanpa kado hanya ucapan selamat. Selamat ulang tahun Dik…!

1 comment:

dahlia said...

huwaaaaaaaaaaa....mau kuehnya
tiup lilinnya..tiup lilinnya
trus
cepet potong kuenya ...potong kuenya...
potong kuenya sekarang juga..
sekarang juga...
huray...huray...met ultah ya adik