
Ketika itu, beliau datang padaku. Tidak lain hanya untuk meminta kesediaanku. Memohon restuku. Tapi bukan untuk sesuatu yang bisa disangkal. Keputusan sudah diambil bahkan sebelum beliau datang padaku. Dengan segala alasan yang masuk akal dan seolah masuk akal, beliau berusaha meyakinkanku. Bahwa jalan ini adalah jalan terbaik yang harus diambil. Pikiranku limbung, otakku buntu. Sedemikiankah pendeknya akalku hingga harus menerimanya. Di balik kebimbangan itu, kulihat kebahagiaan beliau menyeruak mencari celah. Akhirnya keputusan itu datang dengan bijaknya. Entah siapa yang mengalah. Kuterima semuanya dengan kelapangan dada, walaupun seribu pertanyaan, sejuta perandaian datang menghujani setiap nafasku.
Beberapa bulan yang lalu, beliau datang padaku. Tidak lain untuk meminta keikhlasanku. Beberapa hal tidak berjalan sesuai perkiraannya. Wajahnya kuyu dan lesu. Gurat-gurat ketuaan semakin tampak di wajahnya yang terlihat lelah. Rambutnya semakin memutih. Hidupnya telah berubah. Begitu pun dengan milikku yang lambat laun berubah. Pintu abstrak dan nyata ku seakan terpasung oleh lilitan. Hujatan, cacian, omongan miring dan tatapan sinis menerpa apa yang dulu kusebut dengan rumah. Tempat peristirahatan terakhirku di alam ini. Kehangatan yang selalu kurindu. Gelak tawa dan uraian air mata yang pernah menghiasi dalamnya. Kini tinggal kekosongan, gelap dan dingin. Kami yang tertinggal di dalamnya, berjabat, berpeluk saling menguatkan dan memberanikan jiwa kami. Kami pasti mampu melewatinya.
Beberapa waktu lalu, beliau datang padaku. Kali ini hanya lewat suara dan pesan yang diantar kurir-kurir dunia maya. Tidak lain untuk meminta maafku. Atas semua yang pernah terjadi dan akan terjadi. Beliau menghiba maafku atas semua keputusan yang telah diambilnya. Atas semua yang telah membawaku ke hampir titik terendah dalam hidup. Aku hanya diam, hati ini telah ikhlas. Walau tidak seluruhnya. Bebannya telah berpindah. Sekarang aku tidak lagi bocah beringus yang kotor. Tapi bahagia dalam masanya. Beliau tahu itu.
3 comments:
hiks...mudah2an ini cuman prosa...
tapi klo bener mah, gapapa...lah
biasa dalam hidup buat menemukan yg terbaik, pasti harus lewatin proses...
SEMANGAT...!!!!
Hidup memang enggak pernah berjalan sesuai keinginan kita. Tapi, hidup memang layak diperjuangkan.
ngak ada postingan baru neh
Post a Comment